Wednesday, 14 June 2017

Piutang Dagang - Pengantar Akuntansi 2



PIUTANG DAGANG
TUGAS MATA KULIAH
PENGANTAR AKUNTANSI 2



Disusun Oleh :

                            Irawati Kusuma Wardani                        (1623010010)
                            Rizmanda Masita                                      (1623010017)
                            Kinanti Ayu Wigaringtyas                       (1623010030)
                Novi Tri Astuti                                           (1623010043)
                            Eko Siswanto                                              (1623010075)




Program Studi Akuntansi
Fakultas Ekonomi
Universitas Merdeka Madiun Tahun 2016 / 2017





PIUTANG DAGANG

A.  PIUTANG DAGANG ATAU USAHA
Menurut Slamet Sugiri (2002:71) Piutang adalah jumlah tagihan baik kepada individu-individu maupun kepada perusahaan lain. Pada umumnya, piutang diklasifikasikan menjadi piutang dagang, piutang wesel dan piutang lain-lain.
Menurut Rudianto (2012:210) Piutang adalah klaim perusahaan atas uang, barang, atau jasa kepada pihak lain akibat transaksi dimasa lalu.
Piutang timbul apabila perusahaan melakukan penjualan barang atau jasa secara kredit kepada pihak lain piutang merupakan tagihan si penjual kepada si pembeli sebesar nilai transaksi penjualan. Piutang bisa juga timbul apabila perusahaan memberi pinjaman uang sejumlah uang kepada pihak lain. Dengan demikian, piutang pada kehendaknya merupakan hak untuk menerima sejumlah uang diwaktu yang akan datang yang timbul dari transaksi saat ini.
 Piutang adalah klaim yang diharapkan akan ditagih dalam bentuk kas. Setiap transaksi piutang selalu melibatkan dua pihak, yaitu :
1.    Kreditur : Pihak yang mendapat piutang atau tagihan (sebuah aset)
2.    Debitur  : Pihak yang berkewajiban membayar utang (sebuah kewajiban)
Piutang Dagang adalah tagihan kepada pelanggan yang sifatnya terbuka, dalam arti bahwa tagihan ini tidak disertai instrumen kredit. Piutang dagang berasal dari penjualan barang dagang dan jasa secara kredit dalam operasi usaha normal. Piutang dagang sering juga disebut dengan piutang usaha.
Menurut Rudianto (2012:210) Piutang dagang adalah piutang yang timbul dari penjualan barang atau jasa yang dihasilakan perusahaan. Dalam kegiatan normal perusahaan, piutang usaha biasanya akan dilunasi dalam tempo kurang dari satu tahun, sehingga piutang usaha dikelompokan ke dalam kelompok asset lancer.


B.  JENIS-JENIS PIUTANG
Menurut Al. Haryono Jusup (2011:71) Piutang bisa dikelompokkan menjadi tiga golongan, yaitu :
1.    Piutang dagang / usaha
Tagihan kepada pelanggan yang sifatnya terbuka, dalam arti bahwa pada tagihan ini tidak disertai instrumen kredit. Piutang dagang berasal dari penjualan barang dagang dan jasa secara kredit dalam operasi usaha normal. Piutang dagang juga sering disebut piutang usaha.
Tagihan perusahaan kepada konsumen yang melakukan transaksi secara kredit yang tidak disertai surat perjanjian. Perusahaan biasanya mengharapkan akan dapat menerima kas dari transaksi tersebut dalam waktu 30-60 hari.
2.    Piutang wesel
Tagihan perusahaan yang didukung dengan instrumen formal sebagai bukti tagihan yang disebut dengan surat wesel. Piutang wesel biasanya memiliki jangka waktu pelunasan yang lebih panjang daripada piutang usaha, yaitu sekitar 60-90 hari atau bahkan lebih panjang, dengan kewajiban si debitur untuk membayar bunga.
3.    Piutang lain-lain
Mencakup semua tagihan yang bukan piutang usaha, termasuk dalam jenis piutang ini adalah piutang yang timbul dari pemberian pinjaman kepada pihak lain, pinjaman kepada karyawan, uang muka gaji kepada karyawan, dan uang muka pajak ( pajak yang ditanggungkan)

Perbedaan piutang dari masing-masing

No
Piutang dagang
Piutang wesel
Piutang lain-lain
1.
Terjadi karena adanya penjualan barang atau jasa secara kredit.
Terjadi karena penjualan barang atau jasa secara tertulis.
Terjadi karena adanya pemberian pinjaman kepada pihak lain, bukan termasuk piutang dagang dan piutang wesel.
2.
Tidak disertai surat perjanjian,
Disertai surat perjanjian
Tidak disertai surat perjanjian
3.
Jangka waktu kurang dari satu tahun.
Jangka waktu kurang dari satu tahun (piutang wesel jangka pendek),
Jangka waktu lebih dari satu tahun (piutang wesel jangka panjang).
Jangka waktu lebih dari satu tahun
4.
Macam piutang dagang: piutang dagang pada penjualan.

Macam piutang wesel: piutang wesel berbunga dan piutang wesel tidak berbunga.
Macam piutang lain-lain:piutang bunga, piutang gaji, piutang sewa, piutang pada karyawan.
5.
Berkaitan dengan operasi utama perusahaan sehingga harus dapat ditagih.
Mensyaratkan adanya jaminan sehingga jika saat jatuh tempo tidak dapat melunasi maka jaminan tersebut dapat dijual.
Tidak berkaitan dengan operasi sehari-hari dan biasanya dilaporkan dineraca sebagai kelompok aktiva tidak lancar.

C.      MASALAH AKUNTANSI PIUTANG DAGANG
1.       Pengakuan Piutang Dagang
Menurut Al. Haryono Jusup (2011:72) Pengakuan piutang dagang biasanya relatif sederhana. Piutang dagang atau piutang usaha diakui/dicatat pada saat :
1.    Perusahaan memperoleh piutang dagang tersebut melalui adanya penjualan kredit
2.    Terjadinya retur dan potongan penjualan
3.    Adanya pelunasan.
Kesempatan untuk mendapatkan potongan tunai biasanya terjadi ketika produsen (pabrikan) melakukan penjualan kepada pedagang besar (grossir) atau dari grossir ke pedagang pengecer. Potongan pada umumnya diberikan dengan tujuan untuk mendorong agar pembayaran dilakukan lebih cepat atau lebih tepat waktu, atau karena alasan persaingan. Potongan jarang diberikan oleh pedagang pengecer kepada konsumen langsung.

Contoh :
Pada tanggal 1 April PT Alif menjual barang secara kredit kepada CV Hanun seharga Rp 2.000.000 dengan syarat 2/10/30. Pada tanggal 5 April 2011, CV Hanun mengembalikan barang yang dibelinya seharga Rp.200.000 kepada PT Alif, karena tercatat. Pada tanggal 11 April 2011 PT Alif menerima pelunasan dari CV Hanun sebesar saldo tagihannya. Jurnal untuk mencatat transaksi-transaksi diatas dalam pembukuan PT Alif adalah sebagai berikut:

1  Apr
Penjualan
Rp.2.000.000


            Piutang

Rp.2.000.000

(Penjualan Kredit)


5 Apr
Piutang
Rp.200.000


            Retur Penjualan

Rp.200.000

(Retur Penjualan


11 Apr
Kas
Rp.1.764.000


Potongan Penjualan
Rp.36.000


             Piutang

Rp.1.800.000

(Penerimaan Piutang)



2.    Pengendalian Intern Atas Penerimaan Piutang
Menurut Al. Haryono Jusup (2011:74) Penjualan kredit mengandung risiko bagi perusahaan yang berupa kerugian yang harus diderita apabila debitur tidak membayar kewajibannya. Oleh karena itu pengendalian intern atas penerimaan piutang sangatlah penting. Salah satu elemen yang kritis dalam pengendalian intern adalah pemisahan tugas antara tugas penanganan kas dan tugas akuntansi.
Perusahaan besar yang banyak melakukan transaksi penjualan secara kredit pada umumnya memiliki bagian khusus yang disebut bagian kredit. Bagian ini bertugas untuk mengevaluasi calon pembeli yang akan melakukan pembelian secara kredit untuk menentukan permohonan kredit dapat disetujui atau tidak, tugas selanjutnya adalah memonitor catatan pembayaran dari debitur yang bersangkutan.
Agar tercipta pengendalian intern yang baik atas penerimaan kas dari piutang, bagian kredit tidak boleh merangkap sebagai penerima pelunasan piutang, sebaliknya petugas penerimaan kas tidak berwenang untuk memberi persetujuan kredit. Jika hal ini terjadi, maka peluang terjadinya penyelewengan menjadi terbuka.

D.  PENILAIAN PIUTANG DAGANG
Menurut Al. Haryono Jusup (2011:75) Apabila piutang dagang telah dicatat dalam pembukuan, persoalan berikutnya adalah bagaimana melaporkan piutang dagang dalam laporan keuangan atau neraca.
Menurut Rudianto (2012:211) sesuai dengan standar akuntansi keuangan yang berlaku di Indonesia, piutang dicatat dan diakui sebesar jumlah bruto (nilai jatuh tempo) dikurangi dengan taksiran jumlah yang tidak akan diterima. Itu berarti piutang harus dicatat sebesar jumlah yang diharapkan akan dapat ditagih, sesuai dengan prinsip akuntansi perusahaaan harus melaporkan piutang dagang sebagai aset.

1.    KERUGIAN PIUTANG
Menurut Al. Haryono Jusup (2011:75) Penjualan secara kredit disamping mendatangkan keuntungan, juga bisa membawa kerugian bagi perusahaan.
Penjualan secara kredit seringkali mendatangkan kerugian, yaitu apabila si debitur tidak mau atau tidak mampu melaksanakan kewajibannya. Kerugian ini dalam akuntansi dikenal dengan berbagai nama seperti kerugian piutang, beban piutang tak tertagih, dan beban piutang ragu-ragu.
Dalam akuntansi, kerugian akibat piutang tak dapat ditagih dicatat dengan mendebet akun kerugian piutang.
Menurut Rudianto (2012:214) Biasanya cadangan kerugian piutang ditetapkan pada awal periode akuntansi, dan cadangan kerugian piutang merupakan suatu taksiran besarnya piutang yang tidak dapat ditagih pada suatu periode akuntansi. Setelah periode tersebut berjalan, sering kali terdapat sejumlah piutang yang benar-benar tidak dapat ditagih karena berbagai alasan. Piutang yang tidak dapat ditagih karena debiturnya lari, meninggal, bangkrut, atau sebab lain harus dihapus dari saldo piutang.
Ditinjau dari sudut pandang manajemen, adanya kerugian piutang dalam jumlah yang wajar menunjukkan bahwa kebijakan kredit yang ditetapkan perusahaan sudah tepat. Kerugian piutang yang terlalu rendah memberi petunjuk bahwa kebijakan kredit perusahaan terlalu ketat, dan kerugian piutang yang terlalu tinggi dapat diartikan bahwa kebijakan kredit perusahaan terlalu longgar.
Pencatatan kerugian piutang dapat dilakukan dengan dua metoda, yaitu :
a.    Metoda penghapusan langsung
b.    Metoda cadangan

2.    METODA PENGHAPUSAN LANGSUNG
Menurut Hery (2011:43) dalam metode penghapusan langsung kerap digunakan terutama oleh perusahaan yang memiliki bidang usaha seperti restoran, hotel, rumah sakit, kantor pengacara, kantor akuntan public, dan took eceran dengan skala bisnis yang relative kecil (seperti took yang menjual alat-alat listrik, mainan anak-anak, dan lain sebagainya).
Menurut Al. Haryono Jusup (2011:76) Dalam metoda ini, kerugian piutang akan dicatat pada saat perusahaan mendapat kepastian bahwa suatu piutang kepada debitur tertentu tidak akan dapat ditagih. Apabila suatu piutang diyakini tidak akan dapat ditagih lagi, maka kerugian akibat tidak tertagihnya piutang tersebut langsung didebetkan ke dalam akun kerugian piutang dan akun piutang dagang dikredit.
Dalam metoda penghapusan langsung akun beban kerugian piutang hanya akan menunjukkan jumlah kerugian yang sesungguhnya diderita, dan aset piutang dagang akan dilaporkan dalam neraca sebesar jumlah brutonya. Walaupun metoda ini sederhana, namun penerapan metoda ini akan mengurangi kemanfaatan laporan keuangan, baik laporan laba-rugi maupun neraca.
Metoda penghapusan langsung tidak diakui untuk pelaporan keuangan, kecuali bila kerugian piutang kecil sekali jumlahnya.

Contoh:
               CV Alif mempunyai piutang kepada CV Hanun sebesar Rp.3.000.000 . Pada tanggal 12 Desember, manager CVAlif memutuskan untuk menghapus piutang kepada CV Hanun karena sudah tidak mungkin ditagih, maka pada tanggal tersebut dibuat jurnal sebagi berikut:

12 Des
Kerugian Piutang
Rp.3.000.000


            Piutang Dagang

Rp.3.000.000

(Penghapusan piutang)




3.    METODA CADANGAN
Menurut Hery (2011:46) kebanyakan perusahaan besar menggunakan metode cadangan untuk mengestimasi bagian dari piutang usahanya yang tidak dapat ditagih. Daripada perusahaan menentukan mana pelanggarannya yang tidak bisa membayar, perusahaan lebih baik mengurangi jumlah piutang usahanya ke nilai bersih yang dapat direalisasi.

Menurut Al. Haryono Jusup (2011:78) Dalam metoda cadangan untuk akuntansi atas piutang tak tertagih, perusahaan harus menaksir besarnya piutang yang diperkirakan tidak dapat ditagih, pada setiap akhir tahun. Dengan cara seperti itu akan diperoleh penandingan (matching) antara pendapatan dan beban yang lebih tepat. Selain itu dalam laporan posisi keungan (neraca), piutang dapat disajikan sebesar nilai bersih piutang yang dapat direalisasi.
Prinsip akuntansi menegaskan bahwa metoda cadangan sebaiknya digunakan apabila kerugian piutang berjumlah signifikan (material). Ada tiga hal penting yang terkandung dalam metoda ini :
a.    Perusahaan menaksir jumlah piutang yang diperkirakan tak tertagih. Taksiran beban ini akan ditandingkan dengan pendapatan dari periode yang sama (periode pancatatan pendapatan)
b.    Perusahaan mendebet taksiran kerugian ke dalam akun kerugian piutang dan mengkredit akun cadangan kerugian piutang (sebuah akun kontra-aset) melalui jurnal penyesuaian yang dibuat pada setiap akhir periode.
c.    Apabila perusahaan akan menghapus piutng tertentu yang sudah tidak dapat ditagih lagi 9write off), maka jumlah yang sesungguhnya tidak dapat ditagih tersebut didebetkan ke akun cadangankerugian piutang dan jumlah yang sama dikreditkan ke akun piutang usaha.
Pencatatan taksiran kerugian
Akun cadangan kerugian piutang adalah suatu akun kontra (lawan) aset yang menggambarkan bagian dari tagihan kotor terhadap konsumen yang diperkirakan tidak akan dapat ditagih di masa yang akan datang. Akun ini di akhir tahun tidak ditutup, melainkan dicantumkan dalam neraca pada kelompok aset lancar sebagai pengurang terhadap akun piutang dagang.
Cadangan kerugian piutang menggambarkan taksiran jumlah tagihan terhadap debitur yang diperkirakan oleh perusahaan tidak akan dapat ditagih di masa datang. Dalam hal ini perusahaan menggunakan sebuah akun kontra dan tidak secardita langsung mengkredit ke piutang dagang karena peusahaan tidak tahu secara pasti piutang (debitur) mana yang tidak membayar.
Contoh:
               PT Alif melakukan penjualan secara kredit sebesar Rp130.000.000 dari jumlah tersebut, piutang sebesar Rp30.000.000 belum dapat ditagih sampai dengan tanggal 30 Desember. Manager kredit memperkirakan bahwa dari piutang yang belum ditagih tersebut  sebesar Rp1.300.000 diantaran tidak mungkin dapat diterima.

31 Des
Kerugian Piutang
Rp1.300.000


           Cadangan Kerugian piutang

Rp1.300.000

(Taksiran Kerugian Piutang)



Pencatatan penghapusan piutang tak tertagih
Perusahaan melakukan berbagai upaya untuk menagih piutang yang sudah lewat waktu, misalnya melalui surat, telepon, dan bahkan melalui tindakan hukum. Apabila tindakan tersebut tidak membuahkan hasil, dan perusahaan berpendapat piutang tersebut tidak dapat ditagih, maka perusahaan harus menghapus piutang tersebut.
Untuk mencegah penghapusan secara dini  atau penghapusan tidak sah, maka manajemen harus membuat otorisasi secara formal (secara tertulis) untuk setiap penghapusan piutang. Agar tercipta sistem pengendalian intern yang baik, perusahaan jangan memberi otorisasi untuk menghapus piutang kepada seseorang yang juga terlibat dalam urusan kas dan piutang.
Suatu penghapusan piutang hanya berpengaruh terhadap akun neraca. (tidak berpengaruh terhadap akun-akun nominal/laba-rugi) . Penghapusan suatu piutang akan mengurangi akun piutang dagang maupun akun cadangan kerugian piutang, tetapi nilai tunai yang bisa direalisasi dari piutang tetap tidak berubah.

Contoh:
                        Pada tanggal 1 Maret 2012, Direktur keuangan PT Alif mengotorisasi penghapusan piutang kepada CV Hanun sebesar Rp60.000. Jurnal untuk mencatat penghapusan piutang tersebut adalah sebagai berikut:
1 maret
Cadangan Kerugian Piutang
Rp60.000


        Piutang Dagang

Rp60.000

(Penghapusan Piutang)



Setelah jurnal diatas dibukukan kedalam buku besar, maka akun-akun yang bersangkutan akan nampak sebagai berikut:

Piutang usaha
1 Jan      saldo      Rp20.000.000
1 Maret                    Rp60.000
1 Maret  saldo      Rp19.940.000


Cadangan Kerugian Piutang
1 Maret                 Rp60.000
1 Jan     saldo        Rp1.300.000

1 Maret saldo        Rp1.240.000

Suatu penghapusan piutang hanya berpengaruh terhadap akun neraca (tidak berpengaruh terhadap akun-akun nominal/laba-rugi). Penghapusan suatu piutang akan mengurangi piutang usaha maupun cadangan kerugian piutang, tetapi nilai tunai yang bisa di realisasi dari piutang tetap tidak berubah, seperti nampak di bawah ini:
  
                            Sebelum Penghapusan  Sesudah Penghapusan
            Piutang Dagang                             Rp20.000.000             Rp19.940.000
            Cadangan Kerugian Piutang                1.300.000                    1.240.000
            Nilai Bersih Direalisasi                  Rp18.700.000             Rp18.700.000

Penerimaan kembali piutang yang telah dihapus
            Kadang-kadang perusahaan berhasil menerima kembali pembayaran dari piutang yang telah dihapus karena diwaktu yang lalu dianggap sudah tidak mungkin dapat ditagih. Hal semacam ini disebut penerimaan kembali suatu piutang yang telah dihapus.
Apabila terjadi penerimaan kembali suatu piutang yang telah dihapus, maka perusahaan harus membuat dua ayat jurnal, yaitu :
a.        Ayat jurnal untuk mencatat balik piutang yang telah dihapus sehingga tercatat kembali dalam pembukuan sebagai piutang
b.      Jurnal untuk mencatat penerimaan kas dari piutang yang telah dihapus.
Contoh:
                        CV Hanun melakukan pembayaran kewajibannya kepada PT Alif pada tanggal 1 Juli (akun piutang telah dihapus dalam pembukuan PT Alif, maka jurnal yang harus dibuat oleh PT Alif adalah sebagai berikut:
1 Juli
Piutang Dagang
Rp60.000


        Cadangan Kerugian Piutang

Rp60.000

(Penerimaan kembali piutang)




1 Juli
Kas
Rp60.000


        Piutang Usaha

Rp60.000

(Penerimaan piutang)




4.    DASAR YANG DIGUNAKAN DALAM METODA CADANGAN

Menurut Al. Haryono Jusup (2011:83) Untuk menaksir jumlah piutang yang tidak dapat ditagih, manajemen dapat menggunakan dua dasar, yaitu;
                  a.     Presentase dari penjualan
                  b.     Presentase dari piutang
Kedua dasar tersebut lazim digunakan dalam akuntansi. Dasar mana yang akan digunakan tergantung kepada keputusan manajemen. Dalam situasi tertentu, manajemen mungkin lebih menekankan pada penandingan pendapatan dan beban. Dalam situasi yang lain, manajemen lebih menitikberatkan pada jumlah nilai tunai kas yang dapat direalisasi dalam neraca.
a.    Presentase dari Penjualan
Dalam dasar presentase dari penjualan, manajemen menetapkan suatu hubungan presentase antara jumlah penjualan kredit dengan taksiran kerugian yang mungkin diderita karena adanya piutang tak tertagih. Presentase ini didasarkan pada pengalaman pada waktu-waktu yang lalu dan kebijakan kredit yang ditetapkan perusahaan. Dasar yang digunakan bisa berua total penjualan kredit atau bisa juga penjualan kredit bersih pada tahun berjalan (tahun ini).
          Contoh:
PT Alif memilih dasar presentasi dari penjualan dan memperkirakan bahwa piutang sebesar 1% dari penjualan kredit bersih tidak akan tertagih. Apabila jumlah penjualan kredit bersih selama tahun 2012 adalah Rp90.000.000, maka kerugian piutang ditaksir akan berjumlah Rp900.000 (1% dari 90.000.000), dan jurnal untuk mencatat kerugian piutang adalah:
  

31 Des
Kerugian Piutang
Rp900.000


       Cadangan Kerugian Piutang

Rp900.000

(Taksiran Kerugian Piutang)



b.    Presentase dari Piutang
Dalam dasar presentase dari piutang, manajemen menetapkan suatu hubungan presentase antara jumlah piutang dengan jumlah kerugian akibat adanya piutang yang tidak tertagih. Untuk menganalisi hal tersebut manajemen biasanya menggunakan suatu daftar yang disebut daftar umur piutang.
Dalam daftar ini debitur (konsumen) dikelompokkan berdasarkan masa lewat waktu, yaitu jangka waktu sejak piutang tersebut seharusnya diterima hingga tanggal pembuatan daftar umur piutang.
Metoda presentase dari piutang biasanya akan menghasilkan perkiraan yang lebih baik tentang nilai tunai piutang yang bisa direalisasi. Namun demikian, dasar ini kurang baik bila ditinjau dari segi penandingan pendapatan dengan beban, apabila sejumlah debitur mempunyai masa lewat waktu yang lebih dari satu tahun. Dalam hal demikian, kerugian piutang untuk tahun ini akan meliputi pula kerugian piutang yang berasal dari penjualan tahun sebelumnya.
Contoh:
                           Seandainya neraca saldo menunjukkan akun cadangan kerugian piutang dengan saldo kredit sebesar Rp50.000, Jurnal penysuaian yang dibutuhkan adalah Rp200.000 (Rp250.000-50.000) seperti nampak dibawah ini:
31 Des
Kerugian Piutang
Rp200.000


      Cadangan Kerugian Piutang

Rp200.000

(Cadangan Kerugian Piutang)



E.  PENGHAPUSAN PIUTANG
Menurut Al. Haryono Jusup (2011:89) Perusahaan bersedia untuk melepaskan piutang kepada pihak lain karena beberapa alasan. Pertama, dalam situasi keuangan yang ketat perusahaan sulit mendapat pinjaman untuk memenuhi kebutuhan kasnya.
Kedua, penagihan piutang seringkali memakan waktu yang cukup lama dan kadang-kadang memerlukan biaya yang cukup besar.
Di negara-negara yang perekonomiannya telah berkembang, dikenal berbagai cara pelepasan piutang, misalnya : penjualan piutang kepada lembaga keuangan, penggadaian piutang, dan penjualan dengan kartu kredit.
Juranal yang digunakaan untuk mencatat penghapusan piutang yaitu adalah:
Beban Kerugian Piutang
Xxxx
          Piutang Dagang
                         Xxxx

Contoh:
            Pada tanggal 10 Oktober 2011 debitur PT Alif mempunyai utang sebesar Rp10.000.000 dam menyatakan tidak mampu membayar.

Berdasarkan contoh diatas maka, dapat dibuat jurnal penghapus piutang sebagai berikut:
Beban Kerugian Piutang
10.000.000
          Piutang Dagang
                           10.000.000

Apabila piutang yang sebelumnya sudah dihapuskan, namun kemungkinan akan dilunasi kembali maka akan dicatat oleh perusahaan dengan jurnal sebagai berikut:
Piutang Dagang
10.000.000
          Beban Kerugian Piutang
                           10.000.000


F.   PENJUALAN DENGAN KARTU KREDIT
Menurut Al. Haryono Jusup (2011:89) Alasan penjual bersedia melayani penjualan dengan kartu kredit adalah dengan menggunakan kartu kredit, konsumen menjadi lebih mudah bertransaksi, sehingga volume penjualan meningkat dibandingkan dengan apabila hanya melayani transaksi penjualan tunai.
Penjual tetap dapat menerima kas (walaupun dikurangi dengan sejumlah biaya administrasi) dalam waktu relatif cepat karena penerbit kartu kredit akan menalangi pembayaran.
Jenis-jenis kartu kredit yang paling sering dijumpai adalah Visa, master Card, dan American Express. Akan dijelaskan sebagai berikut:
1.    Visa
               Layanan Visa bisa digunakan untuk bertransaksi di seluruh dunia, Anda bisa menggunakan kartu kredit berlogo VISA untuk berbelanja baik berbelanja online di situs yang memajang logo VISA ataupun merchant di selurh dunia yang berlogo VISA.
               Penggunaan VISA lebih popular digunakan di negara-negara Asia VISA diterima di puluhan juta pedagang dan 2,3 juta ATM di 200 negara dan wilayah. Jika Anda melakukan transaksi di luar neger, dari setiap transaksi belanja yang dilakuakn akan dikenakan biaya administrasi tambahan.
               Biaya tersebut berkisar antara 1-3% dari total transaksi yang Anda lakukan. Selain itu untuk keamanan nasabah VISA menawarkan layanan perlindungan keamanan yang dinamakan Verified by VISA
               Cara kerja fitur ini adalah nasabah akan diminta meng-klik "Verified by Visa", kemudian akan muncul jendela dimana nasabah bisa memasukkan one-time-password yang telah dikirim terlebih dahulu ke nomor kontak nasabah.
2.    American Express (AMEX)
               Satu-satunya yang menerbitkan kartu kredit dan sekaligus memiliki jaringan pembayarannya sendiri Adalah American Express. Bank American Express merilis Kartu Amex dengan berdiri sendiri. Namun memang kini pamor Amex selaku penerbit alat pembayaran berupa kartu plastik di Indonesia tidak lagi berjaya seperti dulu.
               Saat ini kartu American Express (AMEX) baik jenis charge card atau kartu kredit untuk pasar Indonesia sudah diambil alih oleh Bank Danamon. Sejak 2006 Danamon telah menjadi bank penerbit dan pengelola bisnis merchant kartu American Express di Indonesia.
               Berbeda dengan Visa dan Master Card pengguna kartu American Express tidak bisa seleluasa pengguna VISA dan Master Card. Pasalnya sedikit sekali merchant yang menerima kartu kredit American Express. Dalam segi kemanan American Express juga memiliki sistem perlindungan untuk nasabah yaitu American Express SafeKey.
3.    Master Card
               Sama dengan VISA, Master Card juga merupakan perusahaan institusi finansial yang bermarkas utama di New York Amerika Serikat. Anda juga dapat melakukan transaksi di merchant manapun yang berlogo Master Card.
               Penggunaan Master Card lebih banyak digunakan untuk kawasan Eropa dan Amerika Serikat. Master Card kini digunakan di puluhan juta pedagang yang tersebar di 210 negara. Setiap transaksi di luar negeri yang Anda lakukan dengan kartu kredit Master Card akan dikenakan biaya sebesar antara 0,2% hingga 1% dari total transaksi, tergantung dari jenis transaksinya.
               Master Card sendiri menawarkan layanan Master Card Secure Code yaitu password pribadi untuk memberikan perlindungan transaksi bagi nasabah.
Ada tiga pihak yang terlibat apabila digunakan kartu kredit dalam transaksi penjualan secara eceran, yaitu :
1. Penerbit kartu kredit (yang biasanya bekerja sama dengan bank lokal),
2. Penjual/pengecer (merchant), dan
3. Pembeli/konsumen.
Akan dijelaskan sebagai berikut :
1.    Penerbitan kartu kredit.
          Untuk dapat menjadi pemegang kartu kredit, anda harus menjadi nasabah bank yang bekerja sama dengan penerbit kartu.  Bank akan meneliti kemampuan keuangan pemohon beserta latar belakanglain, untuk memastikan bahwa pemohon layak menjadi pemegang kartu kredit.
Kartu kredit ini dapat digunakan di seluruh dunia untuk melakukan transaksi dengan pengecer (merchant) yang telah bekerja sama dengan penerbit kartu kredit (biasanya pengecer menempelkan logo penerbit kartu kredit di kasa sebagai pemberitahuan kepada pelanggan bahwa mereka menerima pembayaran dengan kartu kredit).

2.    Penggunaan kartu kredit
Apabila pengecer akan menerima pembayaran dengan kartu kredit dari konsumen, maka kartu kredit milik konsumen akan diproses melalui mesin yang terhubung secara elektronik dengan penerbit kartu kredit.
Setelah data rupiah penjualan dimasukkan, maka mesin akan mengeluarkan slip yang memuat informasi tentang nama perusahaan pengecer, nama pemegang nomor kartu kredit, nama barang/jasa yang dijual, dan jumlah penjualan.
3.      Pembayaran kartu kredit oleh pemegang kartu
Setiap bulan, bank penerbit kartu kredit akan menyampaikan tagihan kepada pemegang kartu melalui laporan pemakaian kartu kredit (billing statment).
Pemegang kartu bisa segera membayar penuh di bank yang bersangkutan (tanpa bunga), atau bisa juga mengangsurnya (sudah barang tentu diperhitungkan bunganya oleh bank).
Pemegang kartu kredit wajib membayar fee tahunan yang besarnya berbeda-beda untuk setiap jenis/penerbit kartu kredit.


4.      Pembayaran tagihan oleh penerbit kartu ke pengecer
Penjual atau merchant mengumpulkan slip-slip penggunaan kartu kredit selama suatu masa tertentu. Secara periodik penjual mengajukan permintaan pembayaran kepada bank penerbit kartu dengan melampirkan semua bukti (slip). Atas pengajuan permintaan tersebut, bank membayar total tagihan kepada penjual dikurangi dengan biaya administrasi yang besarnya berkisar antara 2-6 %.

Akuntansi untuk penjualan kartu kredit
            Penjual pada umumnya memandang penjualan dengan kartu kredit seperti penjualan tunai. Penjual mencatat slip kartu kredit seperti menerima pembayaran dengan menggunakan check yang juga diperlakukan sebagai penjualan tunai.

Hal-hal yang perlu dipahami untuk penjualan dengan kartu kredit
a.    Penjualan Kredit
Sistem akuntansi penjualan kredit yaitu penjualan yang pembayaranya dilakukan setelah penyerahan barang dengan jangka waktu yang telah disepakati oleh kedua belah pihak.
Dalam transaksi penjualan kredit, jika order dari pelanggan telah dipenuhi dengan pengiriman barang atau penyerahaan jasa, untuk jangka waktu tertentu perusahaan memiliki piutang kepada pelanggannya. kegiatan penjualan kredit memungkinkan perusahaan menambah volume penjualan dengan memberi kesempatan kepada para pembeli membelanjakan penghasilan yang akan diterima mereka pada masa yang akan datang. Penjualan kredit dapat dilakukan melalui dua sistem yaitu: penjualan kredit dengan kartu kredit perusahaan dan sistem penjualan kredit biasa.
b.    Penjualan kredit dengan kartu kredit perusahaan
Sistem penjualan dengan menggunakan kartu kredit ini biasanya digunakan oleh toko pengecer (retailer). Kartu kredit perusahaan (company credit cards) ini diterbitkan oleh perusahaan tertentu untuk para pelanggannya . pelanggan akan diberi kartu kredit perusahaan setelah melalui seleksi berdasarkankemampuan membayar kredit dan karakternya. Pelanggan daat menggunakan kartu kredit ini untuk membeli barang hanya pada perusahaan yang menerbitkan kartu kredit tersebut. Pada akhir bulan atau pada tanggal tertentu perusahaan menagih jumlah barang yang dibeli oleh pemegang kartu kredit selama jangka waktu tertentu yang telah lewat.
3. Fungsi yang terkait dalam sistem penjulan kredit dengan kartu kredit perusahaan adalah:
a.    Fungsi Kredit
          Fungsi ini bertanggung jawab atas pemberian kartu kepada pelanggan yang terpilih. Fungsi kredit melakukan pengumpulan informasi tentang kemampuan keuangan calon anggota dengan meminta fotocopy rekening koran bank, keterangan gaji atau pendapatan calon anggota dari perusahaan tempat ia bekerja.
b.    Fungsi Penjualan
Fungsi ini bertangung jawab melayani kebutuhan barang pelanggan. Fungsi penjualan mengisi faktur penjualan kredit untuk memungkinkan fungsi gudang dan fungsi pengiriman melaksanakan penyerahan barang kepada pelanggan.
c.    Fungsi Gudang
          Fungsi ini menyediakan barang yang diperlukan oleh pelanggan sesuai dengan yang tercantum dalam tembusan faktur penjualan kartu kredit yang diteriam dari fungsi penjualan.
d.   Fungsi Pengiriman
          Fungsi ini bertanggung jawab untuk menyerahkan barang yang kuantitas, mutu, dan spesifikasinya sesuai denganyang tercantum dalam tembusan faktur penjualan kartu kredit yang diterima dari fungsi penjualan. Fungsi ini juga bertanggung jawab untuk memperoleh tanda tangan dari pelanggan di atas faktur penjualan kredit sebagai bukti telah diterimanya barang yang dibeli oleh pelanggan.
e.    Fungsi Akuntansi
          Fungsi ini bertanggung jawab untuk mencatat transakasi bertambahnya piutang kepada pelanggan ke dalam kartu piutang berdasarkan faktur penjualan kartu kredit yang diterima dari fungsi pengiriman.
f.     Fungsi Penagihan
          Fungsi ini bertangung jawab untuk membuat surat tagihan secara periodik kepada pemegang kartu kredit.

4. Dokumen yang digunakan untuk melaksanakan sistem penjualan kredit dengan sistem kartu kredit perusahaan adalah:
a.    Faktur penjualan kartu kredit
     Dokumen ini digunakan untuk merekam transaksi penjualan kredit.
b.    Surat tagihan
 Surat tagihan ini merupakan turnaround dokument yang isinya dibagi menjadi dua bagian: bagian atas merupakan dokumen yang harus disobek dan dikembalikan bersama cek oleh pelanggan ke perusahaan, sedangkan bagian bawah berisi rincian transaksi pembelian yang dilakukan pelanggan dalam periode waktu tertentu

5. Catatan Akuntansi yang digunakan adalah:
1.   Jurnal Penjualan
Catatan akuntansi ini digunakan untuk mencatat transaksi penjualan, baik secara tunai maupun kredit.
2.   Kartu Piutang
Catatan akuntansi merupakan buku pembantu yang berisi rincian mutasi piutang perusahaan kepada tiap-tiap debiturnya.
3.   Kartu Gudang
Catatan ini sebenarnya bukan termasuk dalam penggolongan catatan akuntansi. Catatan ini deiselenggarakan oleh fungsi gudang dan hanya berisi data kuantitas barang yang disimpan di gudang beserta mutasinya.

Latihan soal :
1.      Berikut ini transaksi yang terjadi pada PT Merdeka Madiun selama tahun 2017 :
1.      Dijual barang dagangan seharga Rp 600.000,00 secara kredit
2.      Diterima pelunasan piutang dagang sebesar Rp 570.000.000,00
3.      Dihapus piutang kepada tuan Andri Hasmoro sebesar Rp 2.400.000,00
4.      Dihapus piutang kepada tuan Deni Sumargo sebesar Rp 4.200.000,00
5.      Tuan Andri Hasmoro melunasi piutang yang sudah dihapus sejumlah Rp 1.800.000,00.
Diminta :
1.      Buatlah jurnal yang diperlukan, apabila perusahaan menggunakan metoda langsung untuk mencatat penghapusan piutang
2.      Apabila perusahaan menggunakan metoda cadangan dan menaksir piutang yang tidak tertagih sebesar 1,5 % dari total penjualan, hitunglah selisih kerugian piutang yang dihitung dengan menggunakan kedua metoda tersebut

Jawab :
1.       
Nama akun
Debet
Kredit
a.       Piutang dagang
       Penjualan
Rp 600.000


Rp 600.000
b.      Kas
      Piutang dagang
Rp 570.000

Rp 570.000
c.       Kerugian piutang
      Piutang dagang
Rp 2.400.000

Rp 2.400.000
d.      Kerugian piutang
      Piutang dagang
Rp 4.200.000

Rp 4.200.000
e.       Kas
      Piutang dagang
Rp 1.800.000

Rp 1.800.000

2.      Kerugian piutang                                      Rp 9.000.000
         Cadangan kerugian piutang dagang                                    Rp 9.000.000

(selisih antara kedua metode tersebut adalah = Rp 2.400.000+ Rp 4.200.000- Rp 9.000.000 = Rp 2.400.000)

DAFTAR PUSTAKA

1.    Slamet Sugiri, 2002, Akuntansi Pengantar 2, Edisi Revisi, UPP AMP YKPN,
Yogyakarta.
2.    Al Haryono Jusup, 2011, Dasar-Dasar Akuntansi, Jilid 2 Edisi 7, STIE YKPN, Yogyakarta.
3.    Al Haryono Jusup, 1995, Dasar-Dasar Akuntansi, Jilid 2 Edisi 5, STIE YKPN, Yogyakarta.
4.    Al Haryono Jusup, 2001, Dasar-Dasar Akuntansi, Jilid 2 Edisi 6, STIE YKPN, Yogyakarta.
5.    Al Haryono Jusup, 2001, Dasar-Dasar Akuntansi Soal-soal dan Pembahasan, Jilid 2 Edisi 4, STIE YKPN Yogyakarta.
6.    Rudianto, 2012, Pengantar Akuntansi, Erlangga, Jakarta.
7.    Hery,S.E., M.Si, 2011, Akuntansi, Gava Media, Yogyakarta.

No comments:

Post a Comment