PIUTANG DAGANG
TUGAS
MATA KULIAH
PENGANTAR
AKUNTANSI 2
Disusun Oleh :
Irawati Kusuma
Wardani (1623010010)
Rizmanda Masita (1623010017)
Kinanti Ayu
Wigaringtyas (1623010030)
Novi Tri Astuti (1623010043)
Eko Siswanto (1623010075)
Program Studi Akuntansi
Fakultas Ekonomi
Universitas Merdeka Madiun Tahun
2016 / 2017
PIUTANG
DAGANG
A. PIUTANG DAGANG ATAU USAHA
Menurut Slamet Sugiri
(2002:71) Piutang adalah jumlah tagihan baik kepada individu-individu maupun
kepada perusahaan lain. Pada umumnya, piutang diklasifikasikan menjadi piutang
dagang, piutang wesel dan piutang lain-lain.
Menurut Rudianto (2012:210) Piutang adalah klaim perusahaan atas uang,
barang, atau jasa kepada pihak lain akibat transaksi dimasa lalu.
Piutang timbul apabila
perusahaan melakukan penjualan barang atau jasa secara kredit kepada pihak lain
piutang merupakan tagihan si penjual kepada si pembeli sebesar nilai transaksi
penjualan. Piutang bisa juga timbul apabila perusahaan memberi pinjaman uang
sejumlah uang kepada pihak lain. Dengan demikian, piutang pada kehendaknya
merupakan hak untuk menerima sejumlah uang diwaktu yang akan datang yang timbul
dari transaksi saat ini.
Piutang adalah klaim yang diharapkan akan
ditagih dalam bentuk kas. Setiap transaksi piutang selalu melibatkan dua pihak,
yaitu :
1.
Kreditur : Pihak yang mendapat piutang
atau tagihan (sebuah aset)
2.
Debitur
: Pihak yang berkewajiban membayar utang (sebuah kewajiban)
Piutang
Dagang adalah tagihan kepada pelanggan yang sifatnya terbuka, dalam arti bahwa
tagihan ini tidak disertai instrumen kredit. Piutang dagang berasal dari
penjualan barang dagang dan jasa secara kredit dalam operasi usaha normal.
Piutang dagang sering juga disebut dengan piutang usaha.
Menurut Rudianto (2012:210)
Piutang dagang adalah piutang yang timbul dari penjualan barang atau jasa yang
dihasilakan perusahaan. Dalam kegiatan normal perusahaan, piutang usaha
biasanya akan dilunasi dalam tempo kurang dari satu tahun, sehingga piutang
usaha dikelompokan ke dalam kelompok asset lancer.
B. JENIS-JENIS PIUTANG
Menurut
Al. Haryono Jusup (2011:71) Piutang bisa dikelompokkan menjadi tiga golongan,
yaitu :
1. Piutang dagang / usaha
Tagihan kepada
pelanggan yang sifatnya terbuka, dalam arti bahwa pada tagihan ini tidak
disertai instrumen kredit. Piutang dagang berasal dari penjualan barang dagang
dan jasa secara kredit dalam operasi usaha normal. Piutang dagang juga sering
disebut piutang usaha.
Tagihan perusahaan
kepada konsumen yang melakukan transaksi secara kredit yang tidak disertai
surat perjanjian. Perusahaan biasanya mengharapkan akan dapat menerima kas dari
transaksi tersebut dalam waktu 30-60 hari.
2. Piutang wesel
Tagihan perusahaan yang
didukung dengan instrumen formal sebagai bukti tagihan yang disebut dengan
surat wesel. Piutang wesel biasanya memiliki jangka waktu pelunasan yang lebih
panjang daripada piutang usaha, yaitu sekitar 60-90 hari atau bahkan lebih
panjang, dengan kewajiban si debitur untuk membayar bunga.
3. Piutang lain-lain
Mencakup semua tagihan
yang bukan piutang usaha, termasuk dalam jenis piutang ini adalah piutang yang
timbul dari pemberian pinjaman kepada pihak lain, pinjaman kepada karyawan,
uang muka gaji kepada karyawan, dan uang muka pajak ( pajak yang ditanggungkan)
Perbedaan
piutang dari masing-masing
No
|
Piutang
dagang
|
Piutang
wesel
|
Piutang
lain-lain
|
1.
|
Terjadi karena adanya penjualan barang
atau jasa secara kredit.
|
Terjadi karena penjualan barang atau
jasa secara tertulis.
|
Terjadi karena adanya pemberian pinjaman kepada
pihak lain, bukan termasuk piutang dagang dan piutang wesel.
|
2.
|
Tidak disertai surat perjanjian,
|
Disertai surat perjanjian
|
Tidak disertai surat perjanjian
|
3.
|
Jangka waktu kurang dari satu tahun.
|
Jangka waktu kurang dari satu tahun
(piutang wesel jangka pendek),
Jangka waktu lebih dari satu tahun
(piutang wesel jangka panjang).
|
Jangka waktu lebih dari satu tahun
|
4.
|
Macam piutang dagang: piutang dagang
pada penjualan.
|
Macam piutang wesel: piutang wesel berbunga
dan piutang wesel tidak berbunga.
|
Macam piutang lain-lain:piutang bunga, piutang
gaji, piutang sewa, piutang pada karyawan.
|
5.
|
Berkaitan dengan operasi utama
perusahaan sehingga harus dapat ditagih.
|
Mensyaratkan adanya jaminan sehingga
jika saat jatuh tempo tidak dapat melunasi maka jaminan tersebut dapat dijual.
|
Tidak berkaitan dengan operasi sehari-hari dan
biasanya dilaporkan dineraca sebagai kelompok aktiva tidak lancar.
|
C. MASALAH AKUNTANSI PIUTANG DAGANG
1. Pengakuan Piutang Dagang
Menurut
Al. Haryono Jusup (2011:72) Pengakuan piutang dagang biasanya relatif
sederhana. Piutang dagang atau piutang usaha diakui/dicatat pada saat :
1.
Perusahaan memperoleh piutang dagang
tersebut melalui adanya penjualan kredit
2.
Terjadinya retur dan potongan penjualan
3.
Adanya pelunasan.
Kesempatan
untuk mendapatkan potongan tunai biasanya terjadi ketika produsen (pabrikan)
melakukan penjualan kepada pedagang besar (grossir) atau dari grossir ke
pedagang pengecer. Potongan pada umumnya diberikan dengan tujuan untuk
mendorong agar pembayaran dilakukan lebih cepat atau lebih tepat waktu, atau
karena alasan persaingan. Potongan jarang diberikan oleh pedagang pengecer
kepada konsumen langsung.
Contoh :
Pada
tanggal 1 April PT Alif menjual barang secara kredit kepada CV Hanun seharga Rp
2.000.000 dengan syarat 2/10/30. Pada tanggal 5 April 2011, CV Hanun
mengembalikan barang yang dibelinya seharga Rp.200.000 kepada PT Alif, karena
tercatat. Pada tanggal 11 April 2011 PT Alif menerima pelunasan dari CV Hanun
sebesar saldo tagihannya. Jurnal untuk mencatat transaksi-transaksi diatas
dalam pembukuan PT Alif adalah sebagai berikut:
1 Apr
|
Penjualan
|
Rp.2.000.000
|
|
Piutang
|
Rp.2.000.000
|
||
(Penjualan Kredit)
|
|||
5 Apr
|
Piutang
|
Rp.200.000
|
|
Retur Penjualan
|
Rp.200.000
|
||
(Retur Penjualan
|
|||
11 Apr
|
Kas
|
Rp.1.764.000
|
|
Potongan Penjualan
|
Rp.36.000
|
||
Piutang
|
Rp.1.800.000
|
||
(Penerimaan Piutang)
|
2. Pengendalian Intern Atas Penerimaan
Piutang
Menurut
Al. Haryono Jusup (2011:74) Penjualan kredit mengandung risiko bagi perusahaan
yang berupa kerugian yang harus diderita apabila debitur tidak membayar
kewajibannya. Oleh karena itu pengendalian intern atas penerimaan piutang
sangatlah penting. Salah satu elemen yang kritis dalam pengendalian intern
adalah pemisahan tugas antara tugas penanganan kas dan tugas akuntansi.
Perusahaan
besar yang banyak melakukan transaksi penjualan secara kredit pada umumnya
memiliki bagian khusus yang disebut bagian kredit. Bagian ini bertugas untuk
mengevaluasi calon pembeli yang akan melakukan pembelian secara kredit untuk
menentukan permohonan kredit dapat disetujui atau tidak, tugas selanjutnya
adalah memonitor catatan pembayaran dari debitur yang bersangkutan.
Agar
tercipta pengendalian intern yang baik atas penerimaan kas dari piutang, bagian
kredit tidak boleh merangkap sebagai penerima pelunasan piutang, sebaliknya
petugas penerimaan kas tidak berwenang untuk memberi persetujuan kredit. Jika
hal ini terjadi, maka peluang terjadinya penyelewengan menjadi terbuka.
D. PENILAIAN PIUTANG DAGANG
Menurut
Al. Haryono Jusup (2011:75) Apabila piutang dagang telah dicatat dalam
pembukuan, persoalan berikutnya adalah bagaimana melaporkan piutang dagang
dalam laporan keuangan atau neraca.
Menurut Rudianto (2012:211) sesuai dengan standar akuntansi
keuangan yang berlaku di Indonesia, piutang dicatat dan diakui sebesar jumlah
bruto (nilai jatuh tempo) dikurangi dengan taksiran jumlah yang tidak akan
diterima. Itu berarti piutang harus dicatat sebesar jumlah yang
diharapkan akan dapat ditagih, sesuai dengan prinsip
akuntansi perusahaaan harus melaporkan piutang dagang sebagai aset.
1. KERUGIAN PIUTANG
Menurut
Al. Haryono Jusup (2011:75) Penjualan secara kredit disamping mendatangkan
keuntungan, juga bisa membawa kerugian bagi perusahaan.
Penjualan
secara kredit seringkali mendatangkan kerugian, yaitu apabila si debitur tidak
mau atau tidak mampu melaksanakan kewajibannya. Kerugian ini dalam akuntansi
dikenal dengan berbagai nama seperti kerugian piutang, beban piutang tak
tertagih, dan beban piutang ragu-ragu.
Dalam
akuntansi, kerugian
akibat piutang tak dapat ditagih dicatat dengan mendebet akun kerugian piutang.
Menurut Rudianto (2012:214)
Biasanya cadangan kerugian piutang ditetapkan pada awal periode akuntansi, dan
cadangan kerugian piutang merupakan suatu taksiran besarnya piutang yang tidak
dapat ditagih pada suatu periode akuntansi. Setelah periode tersebut berjalan,
sering kali terdapat sejumlah piutang yang benar-benar tidak dapat ditagih
karena berbagai alasan. Piutang yang tidak dapat ditagih karena debiturnya lari, meninggal, bangkrut, atau sebab lain harus dihapus dari saldo
piutang.
Ditinjau
dari sudut pandang manajemen, adanya kerugian piutang dalam jumlah yang wajar
menunjukkan bahwa kebijakan kredit yang ditetapkan perusahaan sudah tepat.
Kerugian piutang yang terlalu rendah memberi petunjuk bahwa kebijakan kredit
perusahaan terlalu ketat, dan kerugian piutang yang terlalu tinggi dapat
diartikan bahwa kebijakan kredit perusahaan terlalu longgar.
Pencatatan
kerugian piutang dapat dilakukan dengan dua metoda, yaitu :
a.
Metoda penghapusan langsung
b.
Metoda cadangan
2. METODA PENGHAPUSAN LANGSUNG
Menurut Hery (2011:43) dalam
metode penghapusan langsung kerap digunakan terutama oleh perusahaan yang
memiliki bidang usaha seperti restoran, hotel, rumah sakit, kantor pengacara,
kantor akuntan public, dan took eceran dengan skala bisnis yang relative kecil
(seperti took yang menjual alat-alat listrik, mainan anak-anak, dan lain
sebagainya).
Menurut
Al. Haryono Jusup (2011:76) Dalam metoda ini, kerugian piutang akan dicatat
pada saat perusahaan mendapat kepastian bahwa suatu piutang kepada debitur
tertentu tidak akan dapat ditagih. Apabila suatu piutang diyakini tidak akan
dapat ditagih lagi, maka kerugian akibat tidak tertagihnya piutang tersebut langsung
didebetkan ke dalam akun kerugian piutang dan akun piutang dagang dikredit.
Dalam
metoda penghapusan langsung akun beban kerugian piutang hanya akan menunjukkan
jumlah kerugian yang sesungguhnya diderita, dan aset piutang dagang akan
dilaporkan dalam neraca sebesar jumlah brutonya. Walaupun metoda ini sederhana,
namun penerapan metoda ini akan mengurangi kemanfaatan laporan keuangan, baik
laporan laba-rugi maupun neraca.
Metoda
penghapusan langsung tidak diakui untuk pelaporan keuangan, kecuali bila
kerugian piutang kecil sekali jumlahnya.
Contoh:
CV
Alif mempunyai piutang kepada CV Hanun sebesar Rp.3.000.000 . Pada tanggal 12
Desember, manager CVAlif memutuskan untuk menghapus piutang kepada CV Hanun
karena sudah tidak mungkin ditagih, maka pada tanggal tersebut dibuat jurnal
sebagi berikut:
12 Des
|
Kerugian Piutang
|
Rp.3.000.000
|
|
Piutang Dagang
|
Rp.3.000.000
|
||
(Penghapusan piutang)
|
3. METODA CADANGAN
Menurut Hery (2011:46)
kebanyakan perusahaan besar menggunakan metode cadangan untuk mengestimasi
bagian dari piutang usahanya yang tidak dapat ditagih. Daripada perusahaan
menentukan mana pelanggarannya yang tidak bisa membayar, perusahaan lebih baik
mengurangi jumlah piutang usahanya ke nilai bersih yang dapat direalisasi.
Menurut
Al. Haryono Jusup (2011:78) Dalam metoda cadangan untuk akuntansi atas piutang
tak tertagih, perusahaan harus menaksir besarnya piutang yang diperkirakan
tidak dapat ditagih, pada setiap akhir tahun. Dengan cara seperti itu akan diperoleh
penandingan (matching) antara pendapatan dan beban yang lebih tepat. Selain itu
dalam laporan posisi keungan (neraca), piutang dapat disajikan sebesar nilai
bersih piutang yang dapat direalisasi.
Prinsip
akuntansi menegaskan bahwa metoda cadangan sebaiknya digunakan apabila kerugian
piutang berjumlah signifikan (material). Ada tiga hal penting yang terkandung
dalam metoda ini :
a.
Perusahaan menaksir jumlah piutang yang
diperkirakan tak tertagih. Taksiran beban ini akan ditandingkan dengan pendapatan
dari periode yang sama (periode pancatatan pendapatan)
b.
Perusahaan mendebet taksiran kerugian ke
dalam akun kerugian piutang dan mengkredit akun cadangan kerugian piutang
(sebuah akun kontra-aset) melalui jurnal penyesuaian yang dibuat pada setiap
akhir periode.
c.
Apabila perusahaan akan menghapus piutng
tertentu yang sudah tidak dapat ditagih lagi 9write off), maka jumlah yang
sesungguhnya tidak dapat ditagih tersebut didebetkan ke akun cadangankerugian
piutang dan jumlah yang sama dikreditkan ke akun piutang usaha.
Pencatatan taksiran kerugian
Akun
cadangan kerugian piutang adalah suatu akun kontra (lawan) aset yang
menggambarkan bagian dari tagihan kotor terhadap konsumen yang diperkirakan
tidak akan dapat ditagih di masa yang akan datang. Akun ini di akhir tahun
tidak ditutup, melainkan dicantumkan dalam neraca pada kelompok aset lancar
sebagai pengurang terhadap akun piutang dagang.
Cadangan
kerugian piutang menggambarkan taksiran jumlah tagihan terhadap debitur yang
diperkirakan oleh perusahaan tidak akan dapat ditagih di masa datang. Dalam hal
ini perusahaan menggunakan sebuah akun kontra dan tidak secardita langsung
mengkredit ke piutang dagang karena peusahaan tidak tahu secara pasti piutang
(debitur) mana yang tidak membayar.
Contoh:
PT Alif melakukan penjualan
secara kredit sebesar Rp130.000.000 dari jumlah tersebut, piutang sebesar Rp30.000.000
belum dapat ditagih sampai dengan tanggal 30 Desember. Manager kredit
memperkirakan bahwa dari piutang yang belum ditagih tersebut sebesar Rp1.300.000 diantaran tidak mungkin
dapat diterima.
31 Des
|
Kerugian Piutang
|
Rp1.300.000
|
|
Cadangan Kerugian piutang
|
Rp1.300.000
|
||
(Taksiran Kerugian
Piutang)
|
Pencatatan penghapusan piutang tak
tertagih
Perusahaan
melakukan berbagai upaya untuk menagih piutang yang sudah lewat waktu, misalnya
melalui surat, telepon, dan bahkan melalui tindakan hukum. Apabila tindakan
tersebut tidak membuahkan hasil, dan perusahaan berpendapat piutang tersebut
tidak dapat ditagih, maka perusahaan harus menghapus piutang tersebut.
Untuk
mencegah penghapusan secara dini atau
penghapusan tidak sah, maka manajemen harus membuat otorisasi secara formal
(secara tertulis) untuk setiap penghapusan piutang. Agar tercipta sistem pengendalian
intern yang baik, perusahaan jangan memberi otorisasi untuk menghapus piutang
kepada seseorang yang juga terlibat dalam urusan kas dan piutang.
Suatu
penghapusan piutang hanya berpengaruh terhadap akun neraca. (tidak berpengaruh
terhadap akun-akun nominal/laba-rugi) . Penghapusan suatu piutang akan
mengurangi akun piutang dagang maupun akun cadangan kerugian piutang, tetapi
nilai tunai yang bisa direalisasi dari piutang tetap tidak berubah.
Contoh:
Pada tanggal 1 Maret
2012, Direktur keuangan PT Alif mengotorisasi penghapusan piutang kepada CV
Hanun sebesar Rp60.000. Jurnal untuk mencatat penghapusan piutang tersebut
adalah sebagai berikut:
1 maret
|
Cadangan Kerugian
Piutang
|
Rp60.000
|
|
Piutang Dagang
|
Rp60.000
|
||
(Penghapusan Piutang)
|
Setelah
jurnal diatas dibukukan kedalam buku besar, maka akun-akun yang bersangkutan
akan nampak sebagai berikut:
Piutang
usaha
1 Jan saldo Rp20.000.000
|
1 Maret Rp60.000
|
1 Maret
saldo Rp19.940.000
|
Cadangan
Kerugian Piutang
1 Maret Rp60.000
|
1 Jan
saldo Rp1.300.000
|
1 Maret saldo Rp1.240.000
|
Suatu
penghapusan piutang hanya berpengaruh terhadap akun neraca (tidak berpengaruh
terhadap akun-akun nominal/laba-rugi). Penghapusan suatu piutang akan
mengurangi piutang usaha maupun cadangan kerugian piutang, tetapi nilai tunai
yang bisa di realisasi dari piutang tetap tidak berubah, seperti nampak di
bawah ini:
Sebelum Penghapusan Sesudah Penghapusan
Piutang
Dagang Rp20.000.000 Rp19.940.000
Cadangan
Kerugian Piutang 1.300.000 1.240.000
Penerimaan kembali piutang yang
telah dihapus
Kadang-kadang perusahaan berhasil
menerima kembali pembayaran dari piutang yang telah dihapus karena diwaktu yang
lalu dianggap sudah tidak mungkin dapat ditagih. Hal semacam ini disebut
penerimaan kembali suatu piutang yang telah dihapus.
Apabila
terjadi penerimaan kembali suatu piutang yang telah dihapus, maka perusahaan
harus membuat dua ayat jurnal, yaitu :
a.
Ayat
jurnal untuk mencatat balik piutang yang telah dihapus sehingga tercatat
kembali dalam pembukuan sebagai piutang
b.
Jurnal untuk mencatat penerimaan kas
dari piutang yang telah dihapus.
Contoh:
CV Hanun melakukan
pembayaran kewajibannya kepada PT Alif pada tanggal 1 Juli (akun piutang telah
dihapus dalam pembukuan PT Alif, maka jurnal yang harus dibuat oleh PT Alif
adalah sebagai berikut:
1 Juli
|
Piutang Dagang
|
Rp60.000
|
|
Cadangan Kerugian Piutang
|
Rp60.000
|
||
(Penerimaan kembali
piutang)
|
1 Juli
|
Kas
|
Rp60.000
|
|
Piutang Usaha
|
Rp60.000
|
||
(Penerimaan piutang)
|
4. DASAR YANG DIGUNAKAN DALAM METODA
CADANGAN
Menurut
Al. Haryono Jusup (2011:83) Untuk menaksir jumlah piutang yang tidak dapat
ditagih, manajemen dapat menggunakan dua dasar, yaitu;
a. Presentase
dari penjualan
b. Presentase
dari piutang
Kedua
dasar tersebut lazim digunakan dalam akuntansi. Dasar mana yang akan digunakan
tergantung kepada keputusan manajemen. Dalam situasi tertentu, manajemen
mungkin lebih menekankan pada penandingan pendapatan dan beban. Dalam situasi
yang lain, manajemen lebih menitikberatkan pada jumlah nilai tunai kas yang
dapat direalisasi dalam neraca.
a.
Presentase dari Penjualan
Dalam
dasar presentase dari penjualan, manajemen menetapkan suatu hubungan presentase
antara jumlah penjualan kredit dengan taksiran kerugian yang mungkin diderita
karena adanya piutang tak tertagih. Presentase ini didasarkan pada pengalaman
pada waktu-waktu yang lalu dan kebijakan kredit yang ditetapkan perusahaan.
Dasar yang digunakan bisa berua total penjualan kredit atau bisa juga penjualan
kredit bersih pada tahun berjalan (tahun ini).
Contoh:
PT
Alif memilih dasar presentasi dari penjualan dan memperkirakan bahwa piutang
sebesar 1% dari penjualan kredit bersih tidak akan tertagih. Apabila jumlah
penjualan kredit bersih selama tahun 2012 adalah Rp90.000.000, maka kerugian
piutang ditaksir akan berjumlah Rp900.000 (1% dari 90.000.000), dan jurnal
untuk mencatat kerugian piutang adalah:
31 Des
|
Kerugian Piutang
|
Rp900.000
|
|
Cadangan Kerugian Piutang
|
Rp900.000
|
||
(Taksiran Kerugian
Piutang)
|
b.
Presentase dari Piutang
Dalam
dasar presentase dari piutang, manajemen menetapkan suatu hubungan presentase
antara jumlah piutang dengan jumlah kerugian akibat adanya piutang yang tidak
tertagih. Untuk menganalisi hal tersebut manajemen biasanya menggunakan suatu
daftar yang disebut daftar umur piutang.
Dalam
daftar ini debitur (konsumen) dikelompokkan berdasarkan masa lewat waktu, yaitu
jangka waktu sejak piutang tersebut seharusnya diterima hingga tanggal
pembuatan daftar umur piutang.
Metoda
presentase dari piutang biasanya akan menghasilkan perkiraan yang lebih baik
tentang nilai tunai piutang yang bisa direalisasi. Namun demikian, dasar ini
kurang baik bila ditinjau dari segi penandingan pendapatan dengan beban,
apabila sejumlah debitur mempunyai masa lewat waktu yang lebih dari satu tahun.
Dalam hal demikian, kerugian piutang untuk tahun ini akan meliputi pula
kerugian piutang yang berasal dari penjualan tahun sebelumnya.
Contoh:
Seandainya neraca
saldo menunjukkan akun cadangan kerugian piutang dengan saldo kredit sebesar
Rp50.000, Jurnal penysuaian yang dibutuhkan adalah Rp200.000 (Rp250.000-50.000)
seperti nampak dibawah ini:
31
Des
|
Kerugian Piutang
|
Rp200.000
|
|
Cadangan Kerugian Piutang
|
Rp200.000
|
||
(Cadangan Kerugian
Piutang)
|
E. PENGHAPUSAN PIUTANG
Menurut
Al. Haryono Jusup (2011:89) Perusahaan bersedia untuk melepaskan piutang kepada
pihak lain karena beberapa alasan. Pertama, dalam situasi keuangan yang ketat
perusahaan sulit mendapat pinjaman untuk memenuhi kebutuhan kasnya.
Kedua,
penagihan piutang seringkali memakan waktu yang cukup lama dan kadang-kadang
memerlukan biaya yang cukup besar.
Di
negara-negara yang perekonomiannya telah berkembang, dikenal berbagai cara
pelepasan piutang, misalnya : penjualan piutang kepada lembaga keuangan,
penggadaian piutang, dan penjualan dengan kartu kredit.
Juranal
yang digunakaan untuk mencatat penghapusan piutang yaitu adalah:
Beban Kerugian
Piutang
|
Xxxx
|
Piutang Dagang
|
Xxxx
|
Contoh:
Pada tanggal 10 Oktober 2011 debitur PT Alif mempunyai
utang sebesar Rp10.000.000 dam menyatakan tidak mampu membayar.
Berdasarkan contoh
diatas maka, dapat dibuat jurnal penghapus piutang sebagai berikut:
Beban Kerugian
Piutang
|
10.000.000
|
Piutang Dagang
|
10.000.000
|
Apabila piutang yang
sebelumnya sudah dihapuskan, namun kemungkinan akan dilunasi kembali maka akan
dicatat oleh perusahaan dengan jurnal sebagai berikut:
Piutang Dagang
|
10.000.000
|
Beban Kerugian Piutang
|
10.000.000
|
F. PENJUALAN DENGAN KARTU KREDIT
Menurut Al. Haryono
Jusup (2011:89) Alasan penjual bersedia melayani penjualan dengan kartu kredit
adalah dengan menggunakan kartu kredit, konsumen menjadi lebih mudah
bertransaksi, sehingga volume penjualan meningkat dibandingkan dengan apabila
hanya melayani transaksi penjualan tunai.
Penjual tetap dapat
menerima kas (walaupun dikurangi dengan sejumlah biaya administrasi) dalam
waktu relatif cepat karena penerbit kartu kredit akan menalangi pembayaran.
Jenis-jenis kartu
kredit yang paling sering dijumpai adalah Visa, master Card, dan American
Express. Akan dijelaskan sebagai berikut:
1. Visa
Layanan Visa
bisa digunakan untuk bertransaksi di seluruh dunia, Anda bisa menggunakan kartu
kredit berlogo VISA untuk berbelanja baik berbelanja online di situs yang
memajang logo VISA ataupun merchant di selurh dunia yang berlogo VISA.
Penggunaan VISA lebih
popular digunakan di negara-negara Asia VISA diterima di puluhan juta pedagang
dan 2,3 juta ATM di 200 negara dan wilayah. Jika Anda melakukan transaksi di
luar neger, dari setiap transaksi belanja yang dilakuakn akan dikenakan biaya
administrasi tambahan.
Biaya tersebut berkisar
antara 1-3% dari total transaksi yang Anda lakukan. Selain itu untuk keamanan
nasabah VISA menawarkan layanan perlindungan keamanan yang dinamakan Verified by VISA.
Cara kerja fitur ini
adalah nasabah akan diminta meng-klik "Verified by Visa", kemudian
akan muncul jendela dimana nasabah bisa memasukkan one-time-password
yang telah dikirim terlebih dahulu ke nomor kontak nasabah.
2. American Express (AMEX)
Satu-satunya
yang menerbitkan kartu kredit dan sekaligus memiliki jaringan pembayarannya
sendiri Adalah American Express. Bank American Express merilis Kartu Amex
dengan berdiri sendiri. Namun memang kini pamor Amex selaku penerbit alat
pembayaran berupa kartu plastik di Indonesia tidak lagi berjaya seperti dulu.
Saat ini kartu American
Express (AMEX) baik jenis charge card atau kartu kredit untuk pasar
Indonesia sudah diambil alih oleh Bank Danamon. Sejak 2006 Danamon telah
menjadi bank penerbit dan pengelola bisnis merchant kartu American Express di
Indonesia.
Berbeda dengan Visa dan
Master Card pengguna kartu American Express tidak bisa seleluasa pengguna VISA
dan Master Card. Pasalnya sedikit sekali merchant yang menerima kartu kredit
American Express. Dalam segi kemanan American Express juga memiliki sistem
perlindungan untuk nasabah yaitu American Express SafeKey.
3. Master
Card
Sama dengan VISA, Master Card juga
merupakan perusahaan institusi finansial yang bermarkas utama di New York
Amerika Serikat. Anda juga dapat melakukan transaksi di merchant manapun yang
berlogo Master Card.
Penggunaan Master Card
lebih banyak digunakan untuk kawasan Eropa dan Amerika Serikat. Master Card
kini digunakan di puluhan juta pedagang yang tersebar di 210 negara. Setiap
transaksi di luar negeri yang Anda lakukan dengan kartu kredit Master Card akan
dikenakan biaya sebesar antara 0,2% hingga 1% dari total transaksi, tergantung dari jenis
transaksinya.
Master Card sendiri menawarkan layanan Master Card
Secure Code yaitu password pribadi untuk memberikan perlindungan
transaksi bagi nasabah.
Ada tiga pihak yang
terlibat apabila digunakan kartu kredit dalam transaksi penjualan secara
eceran, yaitu :
1. Penerbit kartu kredit (yang biasanya
bekerja sama dengan bank lokal),
2. Penjual/pengecer (merchant), dan
3. Pembeli/konsumen.
Akan dijelaskan sebagai berikut :
1.
Penerbitan
kartu kredit.
Untuk dapat
menjadi pemegang kartu kredit, anda harus menjadi nasabah bank yang bekerja
sama dengan penerbit kartu. Bank akan
meneliti kemampuan keuangan pemohon beserta latar belakanglain, untuk
memastikan bahwa pemohon layak menjadi pemegang kartu kredit.
Kartu
kredit ini dapat digunakan di seluruh dunia untuk melakukan transaksi dengan
pengecer (merchant) yang telah bekerja sama dengan penerbit kartu kredit
(biasanya pengecer menempelkan logo penerbit kartu kredit di kasa sebagai
pemberitahuan kepada pelanggan bahwa mereka menerima pembayaran dengan kartu
kredit).
2. Penggunaan kartu kredit
Apabila
pengecer akan menerima pembayaran dengan kartu kredit dari konsumen, maka kartu
kredit milik konsumen akan diproses melalui mesin yang terhubung secara
elektronik dengan penerbit kartu kredit.
Setelah
data rupiah penjualan dimasukkan, maka mesin akan mengeluarkan slip yang memuat
informasi tentang nama perusahaan pengecer, nama pemegang nomor kartu kredit,
nama barang/jasa yang dijual, dan jumlah penjualan.
3. Pembayaran kartu kredit oleh
pemegang kartu
Setiap
bulan, bank penerbit kartu kredit akan menyampaikan tagihan kepada pemegang
kartu melalui laporan pemakaian kartu kredit (billing statment).
Pemegang
kartu bisa segera membayar penuh di bank yang bersangkutan (tanpa bunga), atau
bisa juga mengangsurnya (sudah barang tentu diperhitungkan bunganya oleh bank).
Pemegang
kartu kredit wajib membayar fee tahunan yang besarnya berbeda-beda untuk setiap
jenis/penerbit kartu kredit.
4. Pembayaran tagihan oleh penerbit
kartu ke pengecer
Penjual
atau merchant mengumpulkan slip-slip penggunaan kartu kredit selama suatu masa
tertentu. Secara periodik penjual mengajukan permintaan pembayaran kepada bank
penerbit kartu dengan melampirkan semua bukti (slip). Atas pengajuan permintaan
tersebut, bank membayar total tagihan kepada penjual dikurangi dengan biaya administrasi
yang besarnya berkisar antara 2-6 %.
Akuntansi untuk penjualan kartu
kredit
Penjual pada
umumnya memandang penjualan dengan kartu kredit seperti penjualan tunai.
Penjual mencatat slip kartu kredit seperti menerima pembayaran dengan
menggunakan check yang juga diperlakukan sebagai penjualan tunai.
Hal-hal
yang perlu dipahami untuk penjualan dengan kartu kredit
a.
Penjualan Kredit
Sistem akuntansi penjualan kredit yaitu penjualan yang pembayaranya
dilakukan setelah penyerahan barang dengan jangka waktu yang telah disepakati
oleh kedua belah pihak.
Dalam transaksi penjualan kredit, jika order dari pelanggan telah dipenuhi
dengan pengiriman barang atau penyerahaan jasa, untuk jangka waktu tertentu
perusahaan memiliki piutang kepada pelanggannya. kegiatan penjualan kredit
memungkinkan perusahaan menambah volume penjualan dengan memberi kesempatan
kepada para pembeli membelanjakan penghasilan yang akan diterima mereka pada
masa yang akan datang. Penjualan kredit dapat dilakukan melalui dua sistem
yaitu: penjualan kredit dengan kartu kredit perusahaan dan sistem penjualan
kredit biasa.
b.
Penjualan kredit dengan kartu kredit perusahaan
Sistem penjualan dengan menggunakan kartu kredit ini biasanya digunakan
oleh toko pengecer (retailer). Kartu kredit perusahaan (company credit cards)
ini diterbitkan oleh perusahaan tertentu untuk para pelanggannya . pelanggan
akan diberi kartu kredit perusahaan setelah melalui seleksi
berdasarkankemampuan membayar kredit dan karakternya. Pelanggan daat
menggunakan kartu kredit ini untuk membeli barang hanya pada perusahaan yang
menerbitkan kartu kredit tersebut. Pada akhir bulan atau pada tanggal tertentu
perusahaan menagih jumlah barang yang dibeli oleh pemegang kartu kredit selama
jangka waktu tertentu yang telah lewat.
3. Fungsi yang terkait dalam sistem
penjulan kredit dengan kartu kredit perusahaan adalah:
a. Fungsi Kredit
Fungsi ini bertanggung jawab atas
pemberian kartu kepada pelanggan yang terpilih. Fungsi kredit melakukan
pengumpulan informasi tentang kemampuan keuangan calon anggota dengan meminta
fotocopy rekening koran bank, keterangan gaji atau pendapatan calon anggota
dari perusahaan tempat ia bekerja.
b.
Fungsi Penjualan
Fungsi ini bertangung jawab melayani kebutuhan barang pelanggan. Fungsi
penjualan mengisi faktur penjualan kredit untuk memungkinkan fungsi gudang dan
fungsi pengiriman melaksanakan penyerahan barang kepada pelanggan.
c.
Fungsi Gudang
Fungsi ini menyediakan barang yang
diperlukan oleh pelanggan sesuai dengan yang tercantum dalam tembusan faktur
penjualan kartu kredit yang diteriam dari fungsi penjualan.
d.
Fungsi Pengiriman
Fungsi ini bertanggung jawab untuk
menyerahkan barang yang kuantitas, mutu, dan spesifikasinya sesuai denganyang
tercantum dalam tembusan faktur penjualan kartu kredit yang diterima dari
fungsi penjualan. Fungsi ini juga bertanggung jawab untuk memperoleh tanda
tangan dari pelanggan di atas faktur penjualan kredit sebagai bukti telah
diterimanya barang yang dibeli oleh pelanggan.
e.
Fungsi Akuntansi
Fungsi ini bertanggung jawab untuk
mencatat transakasi bertambahnya piutang kepada pelanggan ke dalam kartu
piutang berdasarkan faktur penjualan kartu kredit yang diterima dari fungsi
pengiriman.
f.
Fungsi Penagihan
Fungsi
ini bertangung jawab untuk membuat surat tagihan secara periodik kepada
pemegang kartu kredit.
4. Dokumen yang digunakan untuk melaksanakan
sistem penjualan kredit dengan sistem kartu kredit perusahaan adalah:
a. Faktur penjualan kartu kredit
Dokumen ini digunakan untuk merekam transaksi
penjualan kredit.
b. Surat tagihan
Surat tagihan
ini merupakan turnaround dokument yang isinya dibagi menjadi dua bagian: bagian
atas merupakan dokumen yang harus disobek dan dikembalikan bersama cek oleh
pelanggan ke perusahaan, sedangkan bagian bawah berisi rincian transaksi
pembelian yang dilakukan pelanggan dalam periode waktu tertentu
5. Catatan Akuntansi yang digunakan adalah:
1. Jurnal Penjualan
Catatan akuntansi ini digunakan untuk mencatat transaksi penjualan, baik
secara tunai maupun kredit.
2.
Kartu Piutang
Catatan
akuntansi merupakan buku pembantu yang berisi rincian mutasi piutang perusahaan
kepada tiap-tiap debiturnya.
3.
Kartu Gudang
Catatan ini sebenarnya bukan termasuk dalam penggolongan catatan akuntansi.
Catatan ini deiselenggarakan oleh fungsi gudang dan hanya berisi data kuantitas
barang yang disimpan di gudang beserta mutasinya.
Latihan soal :
1.
Berikut ini transaksi yang terjadi pada
PT Merdeka Madiun selama tahun 2017 :
1. Dijual
barang dagangan seharga Rp 600.000,00 secara kredit
2. Diterima
pelunasan piutang dagang sebesar Rp 570.000.000,00
3. Dihapus
piutang kepada tuan Andri Hasmoro sebesar Rp 2.400.000,00
4. Dihapus
piutang kepada tuan Deni Sumargo sebesar Rp 4.200.000,00
5.
Tuan Andri Hasmoro melunasi piutang yang
sudah dihapus sejumlah Rp 1.800.000,00.
Diminta
:
1. Buatlah
jurnal yang diperlukan, apabila perusahaan menggunakan metoda langsung untuk
mencatat penghapusan piutang
2.
Apabila perusahaan menggunakan metoda
cadangan dan menaksir piutang yang tidak tertagih sebesar 1,5 % dari total
penjualan, hitunglah selisih kerugian piutang yang dihitung dengan menggunakan
kedua metoda tersebut
Jawab
:
1.
Nama akun
|
Debet
|
Kredit
|
a.
Piutang dagang
Penjualan
|
Rp 600.000
|
Rp 600.000
|
b.
Kas
Piutang dagang
|
Rp 570.000
|
Rp 570.000
|
c.
Kerugian piutang
Piutang dagang
|
Rp 2.400.000
|
Rp 2.400.000
|
d.
Kerugian piutang
Piutang dagang
|
Rp 4.200.000
|
Rp 4.200.000
|
e.
Kas
Piutang dagang
|
Rp 1.800.000
|
Rp 1.800.000
|
2. Kerugian
piutang Rp
9.000.000
Cadangan kerugian piutang dagang Rp 9.000.000
(selisih antara kedua metode
tersebut adalah = Rp 2.400.000+ Rp 4.200.000- Rp 9.000.000 = Rp 2.400.000)
DAFTAR PUSTAKA
1. Slamet Sugiri, 2002, Akuntansi Pengantar 2, Edisi Revisi, UPP AMP YKPN,
Yogyakarta.
2. Al Haryono Jusup, 2011, Dasar-Dasar Akuntansi, Jilid
2 Edisi 7, STIE YKPN, Yogyakarta.
3. Al Haryono Jusup, 1995, Dasar-Dasar Akuntansi, Jilid
2 Edisi 5, STIE YKPN, Yogyakarta.
4. Al Haryono Jusup, 2001, Dasar-Dasar Akuntansi, Jilid
2 Edisi 6, STIE YKPN, Yogyakarta.
5. Al Haryono Jusup, 2001, Dasar-Dasar Akuntansi
Soal-soal dan Pembahasan, Jilid 2 Edisi 4, STIE YKPN Yogyakarta.
6. Rudianto, 2012,
Pengantar Akuntansi, Erlangga, Jakarta.
7. Hery,S.E., M.Si,
2011, Akuntansi, Gava Media, Yogyakarta.
No comments:
Post a Comment