Tuesday, 4 July 2017

Kewajiban Jangka Panjang

 


KEWAJIBAN JANGKA PANJANG
TUGAS MATA KULIAH
PENGANTAR AKUNTANSI 2


Disusun Oleh :
1.      Irawati Kusuma Wardani      (1623010010)
2.      Rizmanda Masita M                (1623010017)
3.      Kinanti Ayu W                         (1623010030)
4.      Novi Tri Astuti                         (1623010043)
5.      Eko Siswanto                            (1623010075)




Program Studi Akuntansi
Fakultas Ekonomi
Universitas Merdeka Madiun Tahun 2016 / 2017


KEWAJIBAN JANGKA PANJANG

A.  KEWAJIBAN JANGKA PANJANG
Menurut Al. Haryono Jusup (2011:239) apabila wesel mempunyai nilai nominal yang cukup besar, maka pelunasannya dapat dilakukan dengan cara lain, yaitu melalui angsuran dan angsurannya dapat dilakukan beberapa kali dalam jangka waktu yang cukup panjang. Oleh karena itu wesel jangka panjang sering disebut juga wesel angsuran, setiap angsuran dalam wesel jangka panjang. Meliputi pembayaran bunga dan angsuran atas sebagian pokok pinjaman.
Menurut Wibowo (2005:95) Kewajiban jangka panjang merupakan utang (kewajiban) yang pelunasannya lebih dari satu periode akuntansi. Yang termasuk dalam kelompok utang penjang antara lain, antara lain ialah utang obligasi (bonds payable), utang wesel jangka panjang (longterm note payable), dan utang sewa guna usaha modal (obligation under capital lease).
Menurut Elvy Maria Manurung (2011:82) utang jangka panjang ini merupakan utang yang tidak harus dibayar segera, tetapi harus dilunasi sebelum jangka waktunya berakhir, yang biasanya lebih dari satu tahun. Jenis-jenis utang yang dapat dikelompokkan kedalam utang jangka panjang adalah:
1.      Wesel bayar dengan cicilan (installment of notes payable)
2.      Utang obligasi (bonds payable)
3.      Utang Hipotik (Mortgage payable)

B.  WESEL JANGKA PANJANG
Menurut Al. Haryono Jusup (2011:239) apabila wesel jangka panjang dikeluarkan untuk memperoleh pinjaman uang, maka pinjaman akan mencatat penarikan wesel apabila halnya dalam wesel jangka pendek.
Contoh:
       Pada tanggal 31 Desember 2010, PT Fujiyama meminjam uang sebesar 60.000.000 dengan menarik promes dengan bunga 12%. Promes tersebut akan dilunasi dengan enam kali angsuran tahunan. Jurnal yang dibuat oleh PT Fujuyama untuk mencatat transaksi diatas adalah:
Des 31
Kas...............................................
Rp.60.000.000


         Utang Wesel........................

Rp.60.000.000

(mencatat penarikan pinjaman promes)



Wesel angsuran mengijinkan peminjaman untuk mengembalikan pinjaman dengan cara diangsur secara periodik. Biasanya angsuran tersebut meliputi bunga yang sudah menjadi beban sampai dengan saat angsuran dan sebagian dari pinjaman. Penentuan besarnya angsuran dapat dilakukan dengan dua cara sebagai berikut:
1.    Jumlah Angsuran Tidak Sama Besar
Menurut Al. Haryono Jusup (2011:240) pada cara ini angsuran satu dengn angsuran lain tidak sama besar. Angsuran terdiri dari bunga yang sudah menjadi beban sampai dengan angsuran dilakukan, ditambah dengan angsuran atas pokok pinjaman dengan sama besarnya tetapi beban bunga yang harus dibayar pada angsuran yang satu tidak sama dengan angsuran yang lainnya. Hal ini disebabkan oleh pokok pinjaman yang semakin lama semakin menurun, sehingga bunga yang harus dibayar juga semakin menurun.
Contoh:
Promes yang ditarik oleh PT Fujiyama diatas harus diangsur setiap tanggal 31 Desember. Dengan demikian besarnya angsuran tahunan terdiri atas pokok pinjaman sebesar 10.000.000 (1/6 x 60.000.000) ditambah bunga sampai dengan saat angsuran dibayar. Jurnal yang harus dibuat untuk mencatat angsuran pertama dan angsuran kedua adalah sebagai berikut:


Des 31 2013
Utang Wesel...............
Rp.10.000.000


Beban Bunga..............
Rp.7.200.000


        Kas.....................

Rp.17.200.000

(Mencatat angsuran promes termasuk bunga (12% x 60.000.000)


Des 31 2012
Utang Wesel...............
Rp.10.000.000


Beban Bunga..............
RP.6.000.000


        Kas.....................

Rp.16.000.000

(Mencatat angsuran promes termasuk bunga (12% x 50.000.000)


Pada angsuran pertama bunga dihitung dari pokok pinjaman yang ada pada awal periode yaitu 60.000.000, sedangkan pada angsuran kedua, bunga dihitung dari saldo pokok pinjaman yang ada pada awal tahun kedua yaitu 50.000.000. dengan demikian jumlah yang dibayar (angsuran pokok + bunga) dari periode ke periode menjadi semakin kecil.

2.    Jumlah Angsuran Sama Besar
Menurut Al. Haryono Jusup (2011:241) walaupun jumlah setiap angsuran sama besar namun komposisi angsuran pokok pinjaman dan jumlah bunga yang dibayar berubah-ubah. Penetapan dengan cara ini didasarkan pada konsep nilai sekarang (present value). Penerapan konsep ini dapat dilakukan dengan mudah karena telah tersedia rumus-rumus dan tabel-tabel yang siap digunakan baik dalam buku literatur mata kuliah akuntansi keuangan maupun managemen keuangan.
Apabila wesel yang bernilai nominal 60.000.000 dengan tingkat bunga 12% pertahun, akan diangsur setiap akhir tahun selama 6 tahun, maka nilai nominal tersebut harus kita bagi dengan faktor diskonto yang dapat dicari dalam tabel tersebut, pada kolom 12% dan baris 6, dapat ditentukan faktor diskontonya yaitu 4.1114. dengan demikian angsuran yang harus dilakukan adalah 60.000.000 : 4.1114 = 14.594.000 per tahun (dibulatkan).

Present Value of $1 Received Periodically for a Number of Periods
Periode 41/2% 5% 6% 7% 8% 9% 10% 12%
Hence
1 0,9569 0,9524 0,9434 0,9346 0,9259 0,9174 0,9091 0,8929
2 1,8727 1,8594 1,8334 1,8080 1,7833 1,7591 1,7355 1,6901
3 2,7490 2,7232 2,6730 2,6243 2,5771 2,5313 2,4869 3,0374
4 3,5875 3,5460 3,4651 3,3872 3,3121 3,2397 3,1699 3,0374
5 4,3900 4,3295 4,2124 4,1002 3,9927 3,8897 3,7908 3,6048
6 5,1579 5,0757 4,9173 4,7665 4,5229 4,4859 4,3553 4,1114
7 5,8927 5,7864 5,5824 5,3893 5,2064 5,0330 4,8684 4,5638
8 6,5959 6,4632 6,2098 5,9713 5,7466 5,5348 5,3349 4,9676
9 7,2688 7,1078 6,8017 6,5152 6,2469 5,9953 5,7590 5,3283
10 7,9127 7,7217 7,3601 7,0236 6,7101 6,4177 6,1446 5,6502

Pengalokasian angsuransi
Angsuransi sebesar 14.594.000 terdiri dari angsuransi atas pokok pinjaman dan bunga. Pengalokasian setiap angsuran menjadi angsuran pokok pinjaman dan bunga bahwa bunga dalam setiap angsuran menjadi semakin kecil. Oleh karena itu bagian angsuran pokok pinjaman menjadi semakin besar, sehingga setiap angsuran tetap. Besarnya angsuran (yang jumlahnya tetap) dikurangi bagian bunga (yang jumlahnya semakin sedikit) sama dengan angsuran pokok pinjaman.



Akhir
periode
(a)
Saldo Awal pokok pinjaman
(b)
Angsuran periodik
(c)
Beban bunga periode ini
(a) x 12%
(d)
Bagian pokok pinjaman
(b) – (c)
(e)
Saldo akhir pokok pinjaman
31/12/2011
60.000.000
14.594.000
7.200.000
7.394.000
52.606.000
31/12/2012
52.606.000
14.594.000
6.313.000
8.281.000
44.325.000
31/12/2013
44.325.000
14.594.000
5.319.000
9.275.000
35.050.000
31/12/2014
35.050.000
14.594.000
4.206.000
10.388.000
24.662.000
31/12/2015
24.662.000
14.594.000
2.959.000
11.635.000
13.027.000
31/12/2016
13.027.000
14.590.000
1.563.000
13.027.000
0

Jurnal untuk mencatat pembayaran angsuran wesel yang pertama adalah sebagai berikut:

Des 31
Utang Wesel.............................
Rp.7.394.000


Beban Bunga............................
Rp.7.200.000


         Kas..................................

Rp.14.594.000

(Mencatat angsuran pertama utang wesel)



C.  UTANG OBLIGASI
Menurut Al. Haryono Jusup (2011:244) cara lain yang sering ditempuh perusahaan untuk mendapat pinjaman jangka panjang adalah dengan mengeluarkan obligasi. Perusahaan sering kali melakukan pinjaman uang dengan cara mengeluarkan obligasi. Seperti halnya wesel, obligasi juga disertai dengan janji tertulis untuk membayar bunga dan pokok pinjaman (atau bisa disebut nilai nominal atau nilai pari). Nilai nominal obligasi dan tingkat bunga pertahun dihitung dengan mengalikan persentase bunga terhadap nilai nominal. Kebanyakan bunga obligasi dibayar secara setengah tahunan (setiap enam bulan sekali). Tanggal pelunasan obligasi harus ditetapkan pasti dan dicantumkan pada surat obligasi. Nilai nominal adalah nilai yang harus dilunasi pada tanggal jatuh obligasi tersebut.
Menurut Wibowo (2005:95) utang obligasi memiliki 4 karakteristik yaitu terbagi atas:
a.       Nilai individu yang bervariasi,
b.      Bunga dapat dibayarkan menurut jangka waktu tertentu biasanya semesteran,
c.       Dapat berubah kepemilikannya,
d.      Dapat ditukar dengan surat berharga yang lain (dalam kondisi tertentu) 


Utang obligasi dapat diklasifikasi dalam berbagai bentuk, seperti dibawah ini:
a.    Utang obligasi dijamin dan utang obligasi tidak dijamin
b.    Utang obligasi berjangka dan utang obligasi berseri
c.    Utang obligasi atas nama dan obligasi atas unjuk
d.   Utang obligasi konversi dan utang obligasi yang dapat ditarik sebelum jatuh tempo

Akuntnsi untuk utang obligasi secara umum obligasi dapat dibagi menjadi tiga bagian utama yaitu:
a.       Akuntansi pada saat penerbitan utang obligasi
b.      Akuntansi pada saat utang obligasi sedang beredar
c.       Akuntansi pada saat penebusan/penghentian utang obligasi

Menurut Elvy Maria Manurung (2011:83) pinjaman dalam jumlah yang cukup besar dan diterbitkan melalui perantara di pasar surat berharga, yang disebut underwriter. Obligasi digolongkan sebagai surat berharga. Nilai sebuah obligasi dinyatakan sejumlah yang trtera dalam suratnya, yang disebut nilai nominal (par value, face value) misalnya, obligasi senilai 10.000.000 atau $1.000. harga sebuah obligasi dipasar saham biasa dinyatakan dalam persentase terhadap nilai nominalnya.
Ada kemungkinan bahwa obligasi tidak dijual persis pada tanggal yang sama dan tanggal pembayaran bunga. Jika demikian, maka harga jual obligasi akan dihitung berdasarkan nilai sekarang, ditambah dengan bunga yang trutang (accrued interest) sejak tanggal bunga terakhir dari obligasi tersebut.

Menurut Rudianto (2012:278) apabila perusahaan membutuhkan tambahan modal kerja tetapi tidak dapat melakukan emisi saham baru, kebutuhan itu tidak dapat dipenuhi dengan cara mencari utang jangka panjang. Jika perusahaan kesulitan mencari utang jangka panjang dalam jumlah besar dari satu sumber, maka perusahaan dapat mengeluarkan obligasi. Obligasi ini dapat dijual bila reputasi perusahaan cukup baik dan dipandang dapat tetap berdiriselama jangka waktu beredarnya obligasi tersebut. Harga jual obligasi sangat tergantung pada suku bunga yang diberikan.
Obligasi yang dikeluarkan dicatat dalam akun obligasi sebesar nilai nominal. Jika harga obligasi tidak sama dengan nilai nominal. Selisihnya akan dicatat tersendiri pada agio atau disagio obligasi.apabila dalam penjualan obligasi timbul disagio, maka disagio ini akan ditambahkan pada beban bunga obligasi yang dibayar selama umur obligasi dan dikreditkan ke akun disagio obligasi. Apabila penjualan obligasi menimbulkan agio, maka agio ini merupakan pengurangan terhadap beban bunga obligasiyang dibayar selama umur obligasi, dan dikreditkan keakun agio obligasi.

1.    Mengapa Perusahaan Mengeluarkan Obligasi
Menurut Al. Haryono Jusup (2011:246) perusahaan yang membutuhkan dana untuk jangka panjang biasanya mempertimbangkan untuk mengeluarkan saham atau obligasi. Baik saham maupun obligasi masing-masing mempunyai keuntungan dan kerugian. Pemegang saham yang ada sekarang (disebut juga pemegang saham lama), adanya penambahan saham bisa mendatangkan pemilik-pemilik baru yang dapat mengurangi hak pemegang saham lama. Obligasi tidak mendatangkan pertambahan jumlah pemilik karena obligasi adalah pinjaman. Kreditur tidak akan mengganggu kepemilikan perusahaan dan juga tidak mengganggu pembagian keuntungan perusahaan. Obligasi mengharuskan perusahaan membayar bunga yang akan menjadi beban perusahaan.keuntungan potensial yang akan diperoleh bila perusahaan mengeluarkan obligasi adalah meningkatkan laba perusahaan, sehingga bagian laba untuk pemegang saham juga akan meningkat.
Contoh:
Perusahaan memiliki 200.000 lembar saham beredar, membutuhkan dana sebesar 1.000.000.000 untuk mengembalikan usahanya. Managemen memperkirakan bahwa setelah ekspansi, perusahaan akan memperoleh laba sebesar 900.000.000 per tahun, sebelum dikurangi bunga obligasi dan sebelum dikurangi pajak penghasilan. Untuk memenuhi kebutuhan dana tersebut perusahaan dihadapkan pada dua pilihan. Rencana A ialah menerbitkan 100.000 lembar tambahan saham baru dengan nilai nominal 10.000 per lembar. Hal ini akan mengakibatkan peningkatan jumlah saham beredar menjadi 30.000 lembar. Rencana B ialah menerbitkan obligasi yang nominal seluruhnya berjumlah 1.000.000.000 dengan tingkat bunga 10%. Tabel dibawah ini akan menunjukkan pengaruh kedua rencana diatas terhadap laba perusahaan.
      
Dari perbandingan diatas terlihat bahwa laba per lembar saham akan lebih tinggi jika perusahaan memenuhi kebutuhan dana dengan cara mengeluarkan obligasi. Hal ini disebabkan dalam penentuan laba kena pajak, bunga obligasi dapat dikurangi terhadap laba, sehingga pajak penghasilan menjadi lebih kecil. Dilain pihak jumlah lembar saham beredar pada rencana B tidak berubah (tetap 200.000 lembar), sehingga laba per lembar saham menjadi lebih tinggi. Ditinjau dari segi para pemegang saham (lama), keadaan ini jelas lebih menguntungkan dibandingkan dengan menambahkan pengeluaran saham baru.
Menurut Wibowo (2005:96) pada saat penerbitan utang obligasi diakui dan dicatat sebesar nilai pasar pada saat diterbitkan. Pengeluaran utang obligasi membawa dua konsekuensi, yaitu:
a.       Membayar nilai nominal (face value) pada saat jatuh tempo.
b.      Membayar bunga secara semesteran selama usia utang obligasi.

2.    Perbedaan Antara Utang Obligasi Dengan Utang Saham
Menurut Al. Haryono Jusup (2014:244) Utang obligasi cara lain yang seringkali ditempuh perusahaan untuk mendapat pinjaman jangka panjang adalah dengan mengeluarkan obligasi. Perusahaan seringkali meminjamkan uang dengan cara mengeluarkan obligasi. Seperti halnya wesel, obligasi juga disertai dengan janji tertulis untuk membayar bunga dan pokok pinjaman. Nilai nominal obligasi dan tingkat bunga obligasi dicantumkan dalam surat obligasi. Bunga obligasi pertahun dihitung dengan mengalikan persentase bunga terhadap nilai nominal. Kebanyakan bunga obligasi dibayar secara setengah tahun (setiap enam bulan sekali). Tanggal pelunasan obligasi harus ditetapkan dengan pasti dan dicantumkan pada surat obligasi. Nilai nominal adalah nilai yang harus dilunasi pada tanggal jatuh obligasi tersebut.
Berbeda dengan utang wesel, perngeluaran obligasi biasanya meliputi jumlah lembaran obligasi yang besar dan dijual kepada masyarakat, bukan kepada orang per orang. Dengan demikian sumber pemberi pinjaman obligasi adalah masyarakat luas yang jumlahnya bisa mencapai ratusan bahkan ribuan orang.
3.    Perbedaan Obligasi Dengan Saham
Menurut Al. Haryono Jusup (2014:246) saham dan obligasi adalah surat berharga yang diperdagangkan dipasar modal. Namun jenis surat berharga tersebut mempunyai perbedaan yang sangat besar. Saham adalah bukti pemilikan atau bukti turut andil dalam penyetoran modal pada suatu perseroan.
Contoh:
Bila seorang memiliki selembar saham suatu perseroan dari 10.000 lembar saham beredar perusahaan tersebut, maka orang tersebut mempunyai hak pemilikan sebesar 1/10 dari total modal perusahaan. Dengan demikian orang tersebut juga mempunyai hak atas 1/10 bagian laba perusahaan. Itulah saham sering disebut juga andil.
Obligasi tidak merupakan bukti kepemilikan atas perusahaan. Obligasi adalah bukti bahwa pemegang surat tersebut telah memberi pinjaman kepada perusahaan yang mengeluarkan obligasi yang bersangkutan.
Contoh:
Seseorang memiliki selembar obligasi, bernilai nominal 1.000, 11% jangka waktu 20 tahun, maka orang tersebut mempunyai dua hak, hak pertama untuk mendapat bunga sebesar 11% atau 110 per tahun, hak kedua mendapat pengembalian (pelunasan) pada tanggal jatuh obligasi , yaitu 20 tahun sejak obligasi diterbitkan. Obligasi sering disebut juga surat utang.

D.  JENIS-JENIS OBLIGASI
Menurut Al. Haryono Jusup (2014:248) dalam praktek dijumpai berbagai jenis obligasi dengan karakteristik yang berbeda-beda. Berikut ini akan diuraikan berbagai jenis obligasi yang sering dijumpai dalam massyarakat.
1.    Obligasi Berseri
Menurut Al. Haryono Jusup (2014:248) obligasi berseri adalah obligasi yang terdiri atas beberapa seri dengan tanggal jatuh yang berbeda-beda.
Contoh:
Sebuah perusahaan mengeluarkan obligasi yang nilai nominalnya seluruhnya berjumlah 1.000.000.000. obligasi tersebut terdiri atas 10 seri, masing-masing bernilai nominal total 100.000.000. mulai tahun ke-6, obligasi A sebesar 100.000.000 akan jatuh tempo. Disusul seri B pada tahun ke-7, dan demikian seterusnya sampai dengan tahun ke-15.

2.    Obligasi Sinking Fund
Menurut Al. Haryono Jusup (2014:248) memiliki tanggal jatuh yang sama. Dalam obligasi jenis ini perusahaan yang mengeluarkan obligasi disyaratkan untuk menyisihkan sejumlah kekayan perusahaan (disebut sinking fund) yang diinvestasikan sedemikian rupa sehinga pada saat jatuh obligasi, perusahaan akan memiliki kas yang cukup untuk melunasi obligasi tersebut.

3.    Obligasi Atas Nama dan Obligasi Atas Unjuk
Menurut Al. Haryono Jusup (2014:248) kebanyakan obligasi dibubuhi nama pemegang, artinya pada surat obligasi dicantumkan nama pemilik obligasi tersebut, obligasi semacam ini disebut dengan obligasi atas nama. Cara demikian dilakukan untuk mencegah kerugian pemegang jika obligasi dicuri atau hilang.
Apabila obligasi tidak diberi nama, maka pembayaran bunga dan pelunasan obligasi akan dibayar kepada orang yang menunjukkan surat obligasi. Obligasi semacam itu disebut dengan obligasi atas unjuk.

4.    Obligasi Dengan Jaminan dan Obligasi Tanpa Jaminan
Menurut Al. Haryono Jusup (2014:249) obligasi dengan jaminan adalah obligasi yang dijamin dengan harta kekayaan perusahaan tertentu. Ini berarti jika diperlukan, kekayaan perusahaan yang dijadikan jaminan dapat dijual untuk melunasi obligasi. Dengan adanya jaminan ini, pemegang obligasi tidak perlu khawatir akan pelunasan obligasi pada tanggal jatuhnya.
Obligasi tanpa jaminan tidak secara eksplesit menyebutkan jaminan kekayaan tersebut. Dalam obligasi semacam ini, jaminannya adalah kemampuan keuangan perusahaan itu sendiri. Oleh karena itu obligasi tanpa jaminan hanya akan laku dijual jika dikeluarkan oleh perusahaan yang mempunyai kemampuan keuangan yang kuat.

E.  PROSES PENERBITAN DAN PERDAGANGAN OBLIGASI
Alternatif pendanaan di pasar modal, selain menerbitkan saham bisa melalui penerbitan obligasi.  Obligasi atau surat utang adalah efek yang sangat umum ditemukan dalam dunia keuangan. Proses penerbitan obligasi hampir sama dengan penerbitan saham. Perusahaan yang akan menerbitkan obligasi menunjuk perusahaan efek yang memiliki izin sebagai Penjamin Emisi Efek (PEE).

1.    Penerbitan Obligasi
Menurut Al. Haryono Jusup (2014:249) apabila perusahaan mengeluarkan obligasi, maka obligasi tersebut biasanya dijual kepada suatu perusahaan penjamin emisi yang disebut underwriter. Selanjutnya penjamin emisi yang menjual obligasi kepada masyarakat. Dokumen atau akte yang memuat hak dan kewajiban perusahaan serta pemegang obligasi disebut perjanjian obligasi. Dengan demikian perjanjian obligasi merupakan suatu kontrak tertulis antara perusahaan penerbit obligasi dengan para pemegang obligasi. Setiap pemegang obligasi akan menerima sertifikat obligasi yang merupakan bukti bahwa perusahaan mempunyai utang terhadap pemegang obligasi tersebut
Apabila obligasi dijual kepada pembeli obligasi yang banyak jumlahnya, maka mereka dapat mewakili oleh suatu trustee. Trustee bertugas untuk memonitor tindakan-tindakan perusahaan penerbit obligasi, sehingga mematuhi segala ketentuan yang tercantum dalam perjanjian obligasi. Trustee biasanya berupa sebuah bank yang ditunjuk oleh perusahaan penerbit obligasi.
Menurut Wibowo (2005:96) pada saat penerbitan utang obligasi diakui dan dicatat sebesar nilai pasar pada saat ditebitkan. Nilai pasar pada saat diterbitkan dapat dihitung dangen dua cara, yaitu sebagai berikut:
a.       Nilai pasar dihitung dengan kurs pada saat penerbitan
b.      Nilai pasar utang obligasi diperoleh dengan menghitung nilai sekarang dari nilai nominal obligasi ditambah dengan nilai sekarang dari jumlah bunga yang dibayar semesteran.
Berkaitan dengan penerbitan utang obligasi, terdapat tingkat bunga yang perlu dipertimbangkan yaitu bunga tingkat obligasi (coupon rate, nominal, stated rate) yaitu merupakan tingkat bunga utang obligasi yang  biasanya tercetak pada lembar, dan tingkat bunga pasar-pasar (market rate, effective rate) yaitu merupakan tingkat bunga yang diinginkan investor sebagai ukuran untuk menentukan tingkat pengembalian investasi yang dilakukan.

2.    Perdagangan Obligasi
Menurut Al. Haryono Jusup (2014:250) pemegang obligasi bisa mengubah obligasi yang dimilikinya menjadi uang (kas) dengan cara menjual obligasi tersebut sebesar harga pasar yang berlaku pada saat penjualan dipasar modal. Harga obligasi dinyatakan dalam kurs yang merupakan presentase dari nilai nominal obligasi selembar obligasi bernilai nominal 100.000 dengan kurs 97 berarti bahwa harga jual obligasi tersebut adalah 97% dari nilai nominal, atau 97.000 (97% x 100.000). surat-surat kabar mengumumkan harga obligasi dan aktivitas perdagangan obligasi setiap hari.

Informasi tentang obligasi diatas berarti bahwa Boeng Co (sebuah perusahaan di Amerika Serikat) yang terdaftar dipasar modal sedang beredar. Tingkat bunga obligasi tersebut 5.125%, bernilai nominal $1.000 h tempo pada tahun 2014. Pada saat ini menghasilkan return 5.747%. Nilai obligasi Boeing Co yang diperdagangkan hari ini berjumlah $33.965.000. pada saat penutupan perdagangan, mempunyai harga 96.595% dari nilai nominal atau $965.95.
3.    Penentuan Nilai Pasar Obligasi
Menurut Al. Haryono Jusup (2014:251) Seandainya anda seorang investor dan bermaksud untuk membeli obligasi, bagaimana cara menentukan harga yang harus anda bayar untuk obligasi tersebut?.
Contoh:
PT ABC menerbitkan obligasi bernilai nominal 10.000.000.000, bunga 0%, jangka waktu 20 tahun. Untuk obligasi ini uang yang akan anda terima kembali hanya sepuluh milyard rupiah pada akhir tahun ke-dua puluh. Uang senilai sepuluh milyard rupiah 20 tahun yang akan datang tidak sama nilainya dengan sepuluh milyard rupiah hari ini.
Jawabannya pasti tidak, karena berkaitan dengan nilai waktu uang (time value of money). Apabila mempunyai uang 20 milyard rupiah pada hari ini, anda dapat menginvestasikannya. Dari investari itu anda akan mendapat bunga sehingga pada akhir tahun ke-20 anda akan menerima uang lebih banyak dari 20 milyard rupiah.
Jika seseorang akan membayar anda sebesar 10 milyard rupiah 20 tahun yang akan datang. Anda harus menentukan nilai ekuivalensinya pada hari ini. Anda harus menentukan berapa yang akan anda bayar pada hari ini dengan tingkat bunga yang berlaku sekarang hingga memperoleh pengembalian sebesar 20 milyard rupiah 20 tahun yang akan datang. Jumlah yang harus diinvestasikan hari ini dengan tingkat bunga yang sedang berlaku untuk suatu jangka waktu tertentu dimasa yang akan datang disebut nilai sekarang (present value).
Nilai sekarang dari suatu obligasi adalah nilai pada harga tersebut obligasi dijual dipasar modal. Dengan demikian, harga pasar merupakan fungsi dari tiga faktor untuk menentukan nilai sekarang, yaitu: jumlah rupiah yang akan diterima, jangka waktu hingga uang sejumlah tersebut diterima, tingkat bunga pasar. Tingkat bunga pasar adalah tingkat bunga yang diterima investor untuk meminjamkan dana dimilikinya.

F.   AKUNTANSI UTUK PENERBITAN OBLIGASI
Menurut Al. Haryono Jusup (2014:252) penerbitan obligasi diawali dengan pencetakan dan penandatanganan perjanjian obligasi oleh perusahaan penerbit obligasi dan menyerahkannya pada trustee dari para pemegang obligasi. Pada saat itu perusahaan membuat sebuah memo penerbitan obligasi yang berbunyi: “disetujui untuk menerbitkan obligasi senilai Rp.8.000.000.000, bunga 9%, jangka waktu 20 tahun, tertanggal 1 Januari 2012, dengan pembayaran bunga setiap tanggal 1 Juli dan 1 Januari.
Setelah perjanjian obligasi diserahkan pada trustee maka obligasi seluruhnya atau sebagian sudah dapat dijual. Seandainya seluruh obligasi terjual nilai nominalnya, maka perusahaan penerbit obligasi akan membuat jurnal sebagai berikut:
Jan 1
Kas......................................
Rp.8.000.000.000


        Utang Obligasi............

Rp.8.000.000.000

(Mencatat penerbitan obligasi, 9%, 20 Tahun, sebesar nilai patri)



Apabila pada tanggal 1 Juli 2012, perusahaan membayar bunga obligasi untuk periode 6 bulan (1 Januari 2012 sampai 1 Juli 2012), maka jurnal yang dibuat untuk mencatat transaksi pembayaran bunga obligasi adalah sebagai berikut:
Jali 1
Beban Bunga........................
Rp.360.000.000


        Kas...............................

Rp.360.000.000

(Mencatat pembayaran bunga 6 bulan)



Pada saat obligasi dilunasi (tanggal 1 Januari 2032), perusahaan akan membuat jurnal sebagai berikut:
Jan 1
Utang Obligasi....................
Rp.8.000.000.000


        Kas..............................

Rp.8.000.000.000

(Mencatat pelunasan obligasi pada tanggal jatuh)



1.    Obligasi Diterbitkan Diantara Dua Tanggal Bunga
Menurut Al. Haryono Jusup (2014:253) penjualan obligasi dilakukan diantara dua tanggal bunga. Maka bunga berjalan (yaitu bunga untuk periode setelah tanggal bunga terakhir sampai tanggal penjualan obligasi) harus dibebankan pada pembeli obligasi. Namun pada tanggal bunga pembeli obligasi akan menerima bunga untuk 6 bulan, sehingga beban bunga akan dikembalikan kepada pembeli obligasi.
Contoh:
Perusahaan menjual obligasi pada tanggal 1 Maret seharga nilai nominalnya 100.000, bunga obligasi 9%, tanggal bunga jatuh Januari dan 1 Juli.












Text Box: A
Text Box: B



Text Box: C
 








Keterangan:
A = Periode bunga berjalan (2 bulan)
B = Periode bunga yang menjadi hak pembeli obligasi (4 bulan)
C = Periode bunga yang akan dibayar perusahaan pada tanggal 1/7 (6 bulan)
Pada bagan diatas nampak bahwa apabila transaksi penjualan obligasi terjadi pada tanggal 1 Maret, maka bunga yang menjadi hak pembeli obligasi adalah selama periode B (1 Maret-1 Juli), sedang bunga periode A (disebut bunga berjalan) selama 2 bulan bukan hak pembeli obligasi, akan tetapi pada tanggal 1 Juli perusahaan penerbit obligasi akan membayar bunga untuk 6 bulan atau sebesar 4.500 (100.000 x 9% x 6/12). Oleh karena itu agar pembeli obligasi menerima bunga tidak melebihi haknya (4 bulan). Maka pada saat penjualan pembeli akan dibebani bunga selama 2 bulan atau 1.500 (100.000 x 9% x 2/12) yang nantinya akan dikembalikan pada saat pembeli menerima bunga dari perusahaan. Dengan demikian jurnal yang dibuat pada saat transaksi penjualan obligasi adalah sebagai berikut:
Mar 1
Kas..................................
Rp.101.500


       Utang Bunga.............

Rp.1.500

       Utang Obligasi........

Rp.100.000

(Penjualan obligasi 100.000 x 9% x 2/12)



Jurnal yang dibuat pada saat perusahaan membayar bunga obligasi adalah sebagai berikut:
Juli 1
Utang Bunga....................
Rp.1.500


Utang Obligasi................   
Rp.3.000


        Kas...........................

Rp.4.500

(Pembayaran bunga obligasi periode 6 bulan)



2.    Tingkat Bunga Obligasi
Menurut Al. Haryono Jusup (2014:256) tingkat bunga obligasi dinyatakan secara pasti dan tercantum dalam perjanjian obligasi maupun dalam sertifikat obligasi. Tingkat bunga ini disebut dengan tarif bunga kontrak. Meskipun bunga biasanya dibayar secara tengah tahunan (6 bulan). Namun persentase bunga dinyatakan dalam persentase untuk satu tahun. Untuk menghitung beban bunga per tahun. Tarif bunga tersebut dikalikan dengan nilai nominal obligasi.
Contoh:
Perusahaan mengeluarkan obligasi bernilai nominal 1.000, bunga 8%, pembayaran bunga dilakukan setengah tahun, maka jumlah bunga yang harus dibayar untuk satu tahun adalah 80 (1.000 x 8%) dan setiap tengah tahun perusahaan akan membayar bunga sebesar 40 (80 : 2 atau 1.000 x 8% x 6/12).
Meskipun tarif bunga kontrak menetapkan tingkat bunga yang harus dibayar perusahaan, namun hal ini tidak berarti bahwa tingkat bunga itulah yang akan menjadi beban bung yang harus ditanggung perusahaan penerbit obligasi. Jumlah bunga yang sesungguhnya menjadi beban perusahaan akan tergantung pada bagaimana para pembeli obligasi (pemberi pinjaman) memperkirakan resiko yang harus mereka tanggung dalam memberi pinjaman kepada perusahaan penerbit obligasi, dan tingkat bunga pasar yang berlaku.
3.    Penerbit Obligasi Pada Nilai Nominal
Obligasi pada nilai nominal merupakan hak pelunasan, beberapa obligasi memberi hak kepada penerbit untuk melunasi obligasi tersebut sebelum tanggal jatuh tempo obligasi. Obligasi jenis ini dikenal sebagai obligasi callable. Kebanyakan dari jenis obligasi memberikan hak kepada penerbit untuk menebus obligasi pada nilai nominal.
Dalam beberapa obligasi mengharuskan penerbit untuk membayar premi yang disebut premi opsi. Hal ini terutama digunakan untuk obligasi berbunga tinggi. Pada jenis obligasi begitu banyak persyaratan yang ketat yang membatasi operasi penerbit, dalam rangka untuk membebaskan penerbit dari pembatasan melakukan pelunasan awal obligasi. tetapi dengan biaya yang lebih tinggi.
4.    Diskonto atau premi pada obligasi
pabila tingkat bunga di pasaran lebih rendah dari tingkat bunga obligasi, maka pembeli (investor) akan bersedia membayar dengan harga harga lebih tinggi darui nilai nominal obligasi. Dengan perkataan lain investor bersedia membayar dengan premi. Premi akan mengurangi beban bunga. Sebaliknya diskonto akan menambah  beban bunga.
Obligasi kadang-kadang dikeluarkan tidak bertepatan dengan tanggal bunga tetapi pada suatu tanggal tertentu diantara dua tanggal bunga. Mengingat bahwa bunga obligasi selalu dibayar untuk periode waktu tetap, maka pembeli obligasi dikenakan bunga berjalan yaitu bunga antara tanggal pembayaran bunga yang terakhir sampai dengan tanggal pengeluaran (penjualan) obligasi.
Keuntungan ataupun kerugian sebagai akibat adanya premi atau diskonto dari penjualan obligasi bukanlah merupakan laba atau rugi pada periode di mana penjualan itu terjadi, melinkan merupakan keuntungan atau kerugian sepanjang umur dari Hutang obligasi yang bersangkutan. Oleh karena itu setiap akhir periode (tahun) perlu disusun jurnal pembebanan keuntungan atau kerugian tersebut ke akun “Beban bunga”, melalui jurnal penyesuaian.

5.    Penerbitan Obligasi Pada Diskonto
Menurut Al. Haryono Jusup (2014:257) diskonto atas utang obligasi terjadi apabila perusahaan menerbitkan dan menjual obligasi yang tingkat bunga kontraknya lebih rendah daripada tingkat bunga pasar
Contoh:
Pada tanggal 1 Januari 2010 perusahaan mengeluarkan obligasi bernilai nominal 100.000.000.000, bunga 8%, dengan jangka waktu 10 tahun.
Pada saat obligasi akan diterbitkan , tingkat bunga pasar yang berlaku 9% dalam situasi demikian investor tidak akan membeli obligasi tersebut karena tingkat bunganya lebih rendah daripada tingkat bunga pasar. Agar investor bersedia membeli maka harga obligasi harus diturunkan. Selisihnya antara nilai nominal dengan harga jual yang lebih rendah dari nilai nominal disebut diskonto. Yaitu dijual dengan harga 93.492.000.000, maka diskontonya adalah 6.508.000.000, jurnal untuk mencatat transaksi penjualan obligasi dengan diskonto adalah sebagai berikut:

Jan 1
Kas..................................
Rp.93.492.000.000


 Diskonto Obligasi..........
Rp.6.508.000.000


       Utang Obligasi........

Rp.100.000.000.000

(Penjualan obligasi bunga 8%, jangka waktu 10 tahun)



Seandainya perusahaan menyusun neraca pada tanggal penjualan obligasi diatas, maka obligasi tersebut akan dicantumkan dalam kelompok utang jangka panjang dengan cara sebagai berikut:

Diskonto obligasi yang dilaporkan dalam neraca, adalah jumlah diskonto yang belum diamortisasi. Saldo diskonto obligasi dikurangi terhadap nilai nominal obligasi, sehingga dapat ditentukan nilai buku obligasi.
Menurut Elvy Maria Manurung (2011:84) obligasi yang diterbitkan dengan diskonto ada juga kemungkinan obligasi dijual lebih rendah dari nilai nominalnya, jika para investor menganggap bahwa bunga yang ditawarkan obligasi tersebut tidak/kurang menarik.

6.    Penerbitan Obligasi Pada Premi
Menurut Al. Haryono Jusup (2014:264) apabila perusahaan menawarkan penjualan obligasi dengan tingkat bunga kontrak yang lebih tinggi dari tingkat bunga pasar pada tingkat risiko tertentu, maka obligasi tersebut akan dijual dengan premi. Oleh karena itu obligasi dapat dijual dengan harga yang lebih tinggi dari nilai nominalnya. Selisih lebih dari harga jual obligasi dengan nilai nominal obligasi disebut premi obligasi.
Contoh:
Pada tanggal 1 Mei perusahaan menjual obligasi yang seluruhnya bernilai nominal 100.000.000.000, bunga 11%, jangka waktu 10 tahun, dengan tanggal bunga 1 Mei dan 1 November. Pada saat obligasi ditrbitkan tingkat bunga pasar adalah 10%, sehingga obligasi ditawarkan dengan harga 106.232.000.000. dengan demikian transaksi penjualan obligasi ini timbul premi sebesar 6.232.000.000 (106.232.000.000 – 100.000.000.000). jurnal untuk mencatat transaksi penjualan obligasi dengan premi adalah sebagai berikut:

Mei 1
Kas............................
Rp.106.232.000.000


       Utang Obligasi....

Rp.100.000.000.000

       Premi Obligasi....

Rp.6.232.000.000

(Penjualan obligasi dengan premi, pada tanggal penerbitan obligasi)



Seandainya perusahaan menyusun neraca pada tanggal penjualan obligasi, maka utang obligasi dan premi obligasi akan dicantumkan dalam neraca dengan cara sebagai berikut:

Premi obligasi yang belum diamortisasi dalam neraca ditambahkan terhadap nilai nominal obligasi, sehingga dapat ditentukan nilai buku obligasi pada tanggal neraca.

Menurut Wibowo (2005:99) Jika utang obligasi diterbitkan pada tingkat bunga pasar yang lebih tinggi dari tingkat bunga utang obligasi, maka utang obligasi yang diterbitkan akan memperoleh diskon, artinya nilai pasar utang obligasi tersebut lebih rendah dari nilai nominal. Jika obligasi yang diterbitkan pada tingkat bunga pasar yang lebih rendah dari bunga utang obligasi maka utang obligasi yang diterbitkan akan memperoleh pemium, artinya nilai pasarnya lebih tinggi dari nilai nominal. Sedangkan jika utang obligasi yang diterbitkan pada tingkat bunga pasar yang sama pada tingkat bunga obligasi, maka utang obligasi tersebut tidak memperoleh diskon atau premium, artinya nilai pasar  utang obligasi sama dengan nilai nominal.
Menurut Elvy Maria Manurung (2011:85) obligasi yang diterbitkan dengan premi yaitu jika para investor menganggap bahwa bunga yang ditawarkan obligasi menarik, maka obligasi yang dijual dengan harga diatas nominalnya


DAFTAR ISI
1.    Slamet Sugiri, 2002, Akuntansi Pengantar 2, Edisi Revisi, UPP AMP YKPN,
Yogyakarta.
2.    Al Haryono Jusup, 2011, Dasar-Dasar Akuntansi, Jilid 2 Edisi 7, STIE YKPN, Yogyakarta.
3.    Al Haryono Jusup, 1995, Dasar-Dasar Akuntansi, Jilid 2 Edisi 5, STIE YKPN, Yogyakarta.
4.    Al Haryono Jusup, 2001, Dasar-Dasar Akuntansi, Jilid 2 Edisi 6, STIE YKPN, Yogyakarta.
5.    Al Haryono Jusup, 2001, Dasar-Dasar Akuntansi Soal-soal dan Pembahasan, Jilid 2 Edisi 4, STIE YKPN Yogyakarta.
6.    Elvy Maria Manurung, 2011, Akuntansi Dasar, Erlangga, Jakarta.
7.    Rudianto, 2012, Pengantar Akuntansi, Erlangga, Jakarta.
8.    Wibowo, S.E., M.M, 2005, Pengantar Akuntansi II, Grasindo, Jakarta.

No comments:

Post a Comment