KEWAJIBAN JANGKA PANJANG
TUGAS
MATA KULIAH
PENGANTAR AKUNTANSI 2
Disusun Oleh
:
1.
Irawati
Kusuma Wardani (1623010010)
2.
Rizmanda
Masita M (1623010017)
3.
Kinanti
Ayu W (1623010030)
4.
Novi
Tri Astuti (1623010043)
5.
Eko Siswanto (1623010075)
Program
Studi Akuntansi
Fakultas
Ekonomi
Universitas
Merdeka Madiun Tahun 2016 / 2017
KEWAJIBAN
JANGKA PANJANG
A.
KEWAJIBAN JANGKA PANJANG
Menurut Al. Haryono Jusup (2011:239) apabila wesel mempunyai
nilai nominal yang cukup besar, maka pelunasannya dapat dilakukan dengan cara
lain, yaitu melalui angsuran dan angsurannya dapat dilakukan beberapa kali
dalam jangka waktu yang cukup panjang. Oleh karena itu wesel jangka panjang
sering disebut juga wesel angsuran, setiap angsuran dalam wesel jangka panjang.
Meliputi pembayaran bunga dan angsuran atas sebagian pokok pinjaman.
Menurut Wibowo (2005:95) Kewajiban jangka panjang
merupakan utang (kewajiban) yang pelunasannya lebih dari satu periode
akuntansi. Yang termasuk dalam kelompok utang penjang antara lain, antara lain
ialah utang obligasi (bonds payable), utang
wesel jangka panjang (longterm note
payable), dan utang sewa guna usaha modal (obligation under capital lease).
Menurut Elvy Maria Manurung (2011:82) utang jangka
panjang ini merupakan utang yang tidak harus dibayar segera, tetapi harus
dilunasi sebelum jangka waktunya berakhir, yang biasanya lebih dari satu tahun.
Jenis-jenis utang yang dapat dikelompokkan kedalam utang jangka panjang adalah:
1.
Wesel bayar dengan
cicilan (installment of notes payable)
2.
Utang obligasi (bonds payable)
3.
Utang Hipotik (Mortgage payable)
B.
WESEL JANGKA PANJANG
Menurut Al. Haryono Jusup (2011:239) apabila wesel jangka panjang
dikeluarkan untuk memperoleh pinjaman uang, maka pinjaman akan mencatat
penarikan wesel apabila halnya dalam wesel jangka pendek.
Contoh:
Pada tanggal
31 Desember 2010, PT Fujiyama meminjam uang sebesar 60.000.000 dengan menarik
promes dengan bunga 12%. Promes tersebut akan dilunasi dengan enam kali
angsuran tahunan. Jurnal yang dibuat oleh PT Fujuyama untuk mencatat transaksi
diatas adalah:
|
Des 31
|
Kas...............................................
|
Rp.60.000.000
|
|
|
|
Utang
Wesel........................
|
|
Rp.60.000.000
|
|
|
(mencatat penarikan pinjaman promes)
|
|
|
Wesel angsuran
mengijinkan peminjaman untuk mengembalikan pinjaman dengan cara diangsur secara
periodik. Biasanya angsuran tersebut meliputi bunga yang sudah menjadi beban
sampai dengan saat angsuran dan sebagian dari pinjaman. Penentuan besarnya
angsuran dapat dilakukan dengan dua cara sebagai berikut:
1.
Jumlah Angsuran Tidak Sama Besar
Menurut Al. Haryono Jusup (2011:240) pada cara ini
angsuran satu dengn angsuran lain tidak sama besar. Angsuran terdiri dari bunga
yang sudah menjadi beban sampai dengan angsuran dilakukan, ditambah dengan
angsuran atas pokok pinjaman dengan sama besarnya tetapi beban bunga yang harus
dibayar pada angsuran yang satu tidak sama dengan angsuran yang lainnya. Hal
ini disebabkan oleh pokok pinjaman yang semakin lama semakin menurun, sehingga
bunga yang harus dibayar juga semakin menurun.
Contoh:
Promes yang ditarik oleh PT Fujiyama diatas harus
diangsur setiap tanggal 31 Desember. Dengan demikian besarnya angsuran tahunan
terdiri atas pokok pinjaman sebesar 10.000.000 (1/6 x 60.000.000) ditambah
bunga sampai dengan saat angsuran dibayar. Jurnal yang harus dibuat untuk
mencatat angsuran pertama dan angsuran kedua adalah sebagai berikut:
|
Des 31 2013
|
Utang Wesel...............
|
Rp.10.000.000
|
|
|
|
Beban Bunga..............
|
Rp.7.200.000
|
|
|
|
Kas.....................
|
|
Rp.17.200.000
|
|
|
(Mencatat angsuran promes termasuk bunga (12% x
60.000.000)
|
|
|
|
Des 31 2012
|
Utang Wesel...............
|
Rp.10.000.000
|
|
|
|
Beban Bunga..............
|
RP.6.000.000
|
|
|
|
Kas.....................
|
|
Rp.16.000.000
|
|
|
(Mencatat angsuran promes termasuk bunga (12% x
50.000.000)
|
|
|
Pada angsuran pertama bunga dihitung dari pokok pinjaman yang ada pada awal
periode yaitu 60.000.000, sedangkan pada angsuran kedua, bunga dihitung dari
saldo pokok pinjaman yang ada pada awal tahun kedua yaitu 50.000.000. dengan
demikian jumlah yang dibayar (angsuran pokok + bunga) dari periode ke periode
menjadi semakin kecil.
2.
Jumlah Angsuran Sama Besar
Menurut Al. Haryono Jusup (2011:241) walaupun jumlah
setiap angsuran sama besar namun komposisi angsuran pokok pinjaman dan jumlah
bunga yang dibayar berubah-ubah. Penetapan dengan cara ini didasarkan pada
konsep nilai sekarang (present value). Penerapan
konsep ini dapat dilakukan dengan mudah karena telah tersedia rumus-rumus dan
tabel-tabel yang siap digunakan baik dalam buku literatur mata kuliah akuntansi
keuangan maupun managemen keuangan.
Apabila wesel yang bernilai nominal 60.000.000 dengan
tingkat bunga 12% pertahun, akan diangsur setiap akhir tahun selama 6 tahun,
maka nilai nominal tersebut harus kita bagi dengan faktor diskonto yang dapat
dicari dalam tabel tersebut, pada kolom 12% dan baris 6, dapat ditentukan
faktor diskontonya yaitu 4.1114. dengan demikian angsuran yang harus dilakukan
adalah 60.000.000 : 4.1114 = 14.594.000 per tahun (dibulatkan).
| Present Value of $1 Received Periodically for a Number of Periods | ||||||||
| Periode | 41/2% | 5% | 6% | 7% | 8% | 9% | 10% | 12% |
| Hence | ||||||||
| 1 | 0,9569 | 0,9524 | 0,9434 | 0,9346 | 0,9259 | 0,9174 | 0,9091 | 0,8929 |
| 2 | 1,8727 | 1,8594 | 1,8334 | 1,8080 | 1,7833 | 1,7591 | 1,7355 | 1,6901 |
| 3 | 2,7490 | 2,7232 | 2,6730 | 2,6243 | 2,5771 | 2,5313 | 2,4869 | 3,0374 |
| 4 | 3,5875 | 3,5460 | 3,4651 | 3,3872 | 3,3121 | 3,2397 | 3,1699 | 3,0374 |
| 5 | 4,3900 | 4,3295 | 4,2124 | 4,1002 | 3,9927 | 3,8897 | 3,7908 | 3,6048 |
| 6 | 5,1579 | 5,0757 | 4,9173 | 4,7665 | 4,5229 | 4,4859 | 4,3553 | 4,1114 |
| 7 | 5,8927 | 5,7864 | 5,5824 | 5,3893 | 5,2064 | 5,0330 | 4,8684 | 4,5638 |
| 8 | 6,5959 | 6,4632 | 6,2098 | 5,9713 | 5,7466 | 5,5348 | 5,3349 | 4,9676 |
| 9 | 7,2688 | 7,1078 | 6,8017 | 6,5152 | 6,2469 | 5,9953 | 5,7590 | 5,3283 |
| 10 | 7,9127 | 7,7217 | 7,3601 | 7,0236 | 6,7101 | 6,4177 | 6,1446 | 5,6502 |
Pengalokasian
angsuransi
Angsuransi sebesar 14.594.000 terdiri dari angsuransi
atas pokok pinjaman dan bunga. Pengalokasian setiap angsuran menjadi angsuran
pokok pinjaman dan bunga bahwa bunga dalam setiap angsuran menjadi semakin
kecil. Oleh karena itu bagian angsuran pokok pinjaman menjadi semakin besar,
sehingga setiap angsuran tetap. Besarnya angsuran (yang jumlahnya tetap)
dikurangi bagian bunga (yang jumlahnya semakin sedikit) sama dengan angsuran
pokok pinjaman.
|
Akhir
periode
|
(a)
Saldo Awal pokok pinjaman
|
(b)
Angsuran periodik
|
(c)
Beban bunga periode ini
(a) x 12%
|
(d)
Bagian pokok pinjaman
(b) – (c)
|
(e)
Saldo akhir pokok pinjaman
|
|
31/12/2011
|
60.000.000
|
14.594.000
|
7.200.000
|
7.394.000
|
52.606.000
|
|
31/12/2012
|
52.606.000
|
14.594.000
|
6.313.000
|
8.281.000
|
44.325.000
|
|
31/12/2013
|
44.325.000
|
14.594.000
|
5.319.000
|
9.275.000
|
35.050.000
|
|
31/12/2014
|
35.050.000
|
14.594.000
|
4.206.000
|
10.388.000
|
24.662.000
|
|
31/12/2015
|
24.662.000
|
14.594.000
|
2.959.000
|
11.635.000
|
13.027.000
|
|
31/12/2016
|
13.027.000
|
14.590.000
|
1.563.000
|
13.027.000
|
0
|
Jurnal
untuk mencatat pembayaran angsuran wesel yang pertama adalah sebagai berikut:
|
Des 31
|
Utang Wesel.............................
|
Rp.7.394.000
|
|
|
|
Beban Bunga............................
|
Rp.7.200.000
|
|
|
|
Kas..................................
|
|
Rp.14.594.000
|
|
|
(Mencatat angsuran pertama utang wesel)
|
|
|
C.
UTANG OBLIGASI
Menurut Al. Haryono Jusup (2011:244) cara lain yang
sering ditempuh perusahaan untuk mendapat pinjaman jangka panjang adalah dengan
mengeluarkan obligasi. Perusahaan sering kali melakukan pinjaman uang dengan
cara mengeluarkan obligasi. Seperti halnya wesel, obligasi juga disertai dengan
janji tertulis untuk membayar bunga dan pokok pinjaman (atau bisa disebut nilai
nominal atau nilai pari). Nilai nominal obligasi dan tingkat bunga pertahun
dihitung dengan mengalikan persentase bunga terhadap nilai nominal. Kebanyakan
bunga obligasi dibayar secara setengah tahunan (setiap enam bulan sekali).
Tanggal pelunasan obligasi harus ditetapkan pasti dan dicantumkan pada surat
obligasi. Nilai nominal adalah nilai yang harus dilunasi pada tanggal jatuh
obligasi tersebut.
Menurut Wibowo (2005:95) utang obligasi memiliki 4
karakteristik yaitu terbagi atas:
a.
Nilai individu yang
bervariasi,
b.
Bunga dapat
dibayarkan menurut jangka waktu tertentu biasanya semesteran,
c.
Dapat berubah
kepemilikannya,
d.
Dapat ditukar
dengan surat berharga yang lain (dalam kondisi tertentu)
Utang obligasi dapat diklasifikasi dalam berbagai bentuk,
seperti dibawah ini:
a.
Utang obligasi
dijamin dan utang obligasi tidak dijamin
b.
Utang obligasi
berjangka dan utang obligasi berseri
c.
Utang obligasi atas
nama dan obligasi atas unjuk
d.
Utang obligasi
konversi dan utang obligasi yang dapat ditarik sebelum jatuh tempo
Akuntnsi untuk utang obligasi secara umum obligasi dapat
dibagi menjadi tiga bagian utama yaitu:
a.
Akuntansi pada saat
penerbitan utang obligasi
b.
Akuntansi pada saat
utang obligasi sedang beredar
c.
Akuntansi pada saat
penebusan/penghentian utang obligasi
Menurut Elvy Maria Manurung (2011:83) pinjaman dalam
jumlah yang cukup besar dan diterbitkan melalui perantara di pasar surat
berharga, yang disebut underwriter. Obligasi digolongkan sebagai surat
berharga. Nilai sebuah obligasi dinyatakan sejumlah yang trtera dalam suratnya,
yang disebut nilai nominal (par value,
face value) misalnya, obligasi senilai 10.000.000 atau $1.000. harga sebuah
obligasi dipasar saham biasa dinyatakan dalam persentase terhadap nilai
nominalnya.
Ada kemungkinan bahwa obligasi tidak dijual persis pada
tanggal yang sama dan tanggal pembayaran bunga. Jika demikian, maka harga jual
obligasi akan dihitung berdasarkan nilai sekarang, ditambah dengan bunga yang
trutang (accrued interest) sejak
tanggal bunga terakhir dari obligasi tersebut.
Menurut Rudianto (2012:278) apabila perusahaan
membutuhkan tambahan modal kerja tetapi tidak dapat melakukan emisi saham baru,
kebutuhan itu tidak dapat dipenuhi dengan cara mencari utang jangka panjang.
Jika perusahaan kesulitan mencari utang jangka panjang dalam jumlah besar dari
satu sumber, maka perusahaan dapat mengeluarkan obligasi. Obligasi ini dapat
dijual bila reputasi perusahaan cukup baik dan dipandang dapat tetap
berdiriselama jangka waktu beredarnya obligasi tersebut. Harga jual obligasi
sangat tergantung pada suku bunga yang diberikan.
Obligasi yang dikeluarkan dicatat dalam akun obligasi
sebesar nilai nominal. Jika harga obligasi tidak sama dengan nilai nominal.
Selisihnya akan dicatat tersendiri pada agio atau disagio obligasi.apabila
dalam penjualan obligasi timbul disagio, maka disagio ini akan ditambahkan pada
beban bunga obligasi yang dibayar selama umur obligasi dan dikreditkan ke akun
disagio obligasi. Apabila penjualan obligasi menimbulkan agio, maka agio ini
merupakan pengurangan terhadap beban bunga obligasiyang dibayar selama umur
obligasi, dan dikreditkan keakun agio obligasi.
1.
Mengapa Perusahaan Mengeluarkan Obligasi
Menurut Al. Haryono
Jusup (2011:246) perusahaan yang membutuhkan dana untuk jangka panjang biasanya
mempertimbangkan untuk mengeluarkan saham atau obligasi. Baik saham maupun
obligasi masing-masing mempunyai keuntungan dan kerugian. Pemegang saham yang
ada sekarang (disebut juga pemegang saham lama), adanya penambahan saham bisa
mendatangkan pemilik-pemilik baru yang dapat mengurangi hak pemegang saham
lama. Obligasi tidak mendatangkan pertambahan jumlah pemilik karena obligasi
adalah pinjaman. Kreditur tidak akan mengganggu kepemilikan perusahaan dan juga
tidak mengganggu pembagian keuntungan perusahaan. Obligasi mengharuskan
perusahaan membayar bunga yang akan menjadi beban perusahaan.keuntungan
potensial yang akan diperoleh bila perusahaan mengeluarkan obligasi adalah
meningkatkan laba perusahaan, sehingga bagian laba untuk pemegang saham juga
akan meningkat.
Contoh:
Perusahaan memiliki
200.000 lembar saham beredar, membutuhkan dana sebesar 1.000.000.000 untuk
mengembalikan usahanya. Managemen memperkirakan bahwa setelah ekspansi,
perusahaan akan memperoleh laba sebesar 900.000.000 per tahun, sebelum
dikurangi bunga obligasi dan sebelum dikurangi pajak penghasilan. Untuk
memenuhi kebutuhan dana tersebut perusahaan dihadapkan pada dua pilihan.
Rencana A ialah menerbitkan 100.000 lembar tambahan saham baru dengan nilai
nominal 10.000 per lembar. Hal ini akan mengakibatkan peningkatan jumlah saham
beredar menjadi 30.000 lembar. Rencana B ialah menerbitkan obligasi yang
nominal seluruhnya berjumlah 1.000.000.000 dengan tingkat bunga 10%. Tabel
dibawah ini akan menunjukkan pengaruh kedua rencana diatas terhadap laba
perusahaan.
Dari perbandingan
diatas terlihat bahwa laba per lembar saham akan lebih tinggi jika perusahaan
memenuhi kebutuhan dana dengan cara mengeluarkan obligasi. Hal ini disebabkan
dalam penentuan laba kena pajak, bunga obligasi dapat dikurangi terhadap laba,
sehingga pajak penghasilan menjadi lebih kecil. Dilain pihak jumlah lembar
saham beredar pada rencana B tidak berubah (tetap 200.000 lembar), sehingga
laba per lembar saham menjadi lebih tinggi. Ditinjau dari segi para pemegang
saham (lama), keadaan ini jelas lebih menguntungkan dibandingkan dengan
menambahkan pengeluaran saham baru.
Menurut Wibowo
(2005:96) pada saat penerbitan utang obligasi diakui dan dicatat sebesar nilai
pasar pada saat diterbitkan. Pengeluaran utang obligasi membawa dua
konsekuensi, yaitu:
a.
Membayar nilai
nominal (face value) pada saat jatuh
tempo.
b.
Membayar bunga
secara semesteran selama usia utang obligasi.
2.
Perbedaan Antara Utang Obligasi Dengan Utang Saham
Menurut Al. Haryono Jusup (2014:244) Utang obligasi cara
lain yang seringkali ditempuh perusahaan untuk mendapat pinjaman jangka panjang
adalah dengan mengeluarkan obligasi. Perusahaan seringkali meminjamkan uang
dengan cara mengeluarkan obligasi. Seperti halnya wesel, obligasi juga disertai
dengan janji tertulis untuk membayar bunga dan pokok pinjaman. Nilai nominal
obligasi dan tingkat bunga obligasi dicantumkan dalam surat obligasi. Bunga
obligasi pertahun dihitung dengan mengalikan persentase bunga terhadap nilai
nominal. Kebanyakan bunga obligasi dibayar secara setengah tahun (setiap enam
bulan sekali). Tanggal pelunasan obligasi harus ditetapkan dengan pasti dan
dicantumkan pada surat obligasi. Nilai nominal adalah nilai yang harus dilunasi
pada tanggal jatuh obligasi tersebut.
Berbeda dengan utang wesel, perngeluaran obligasi
biasanya meliputi jumlah lembaran obligasi yang besar dan dijual kepada
masyarakat, bukan kepada orang per orang. Dengan demikian sumber pemberi
pinjaman obligasi adalah masyarakat luas yang jumlahnya bisa mencapai ratusan
bahkan ribuan orang.
3.
Perbedaan Obligasi Dengan Saham
Menurut Al. Haryono Jusup (2014:246) saham dan obligasi
adalah surat berharga yang diperdagangkan dipasar modal. Namun jenis surat
berharga tersebut mempunyai perbedaan yang sangat besar. Saham adalah bukti
pemilikan atau bukti turut andil dalam penyetoran modal pada suatu perseroan.
Contoh:
Bila seorang memiliki selembar saham suatu perseroan dari
10.000 lembar saham beredar perusahaan tersebut, maka orang tersebut mempunyai
hak pemilikan sebesar 1/10 dari total modal perusahaan. Dengan demikian orang
tersebut juga mempunyai hak atas 1/10 bagian laba perusahaan. Itulah saham
sering disebut juga andil.
Obligasi tidak merupakan bukti kepemilikan atas
perusahaan. Obligasi adalah bukti bahwa pemegang surat tersebut telah memberi
pinjaman kepada perusahaan yang mengeluarkan obligasi yang bersangkutan.
Contoh:
Seseorang memiliki selembar obligasi, bernilai nominal
1.000, 11% jangka waktu 20 tahun, maka orang tersebut mempunyai dua hak, hak
pertama untuk mendapat bunga sebesar 11% atau 110 per tahun, hak kedua mendapat
pengembalian (pelunasan) pada tanggal jatuh obligasi , yaitu 20 tahun sejak
obligasi diterbitkan. Obligasi sering disebut juga surat utang.
D.
JENIS-JENIS OBLIGASI
Menurut Al. Haryono Jusup (2014:248) dalam praktek
dijumpai berbagai jenis obligasi dengan karakteristik yang berbeda-beda.
Berikut ini akan diuraikan berbagai jenis obligasi yang sering dijumpai dalam
massyarakat.
1.
Obligasi Berseri
Menurut Al. Haryono Jusup (2014:248) obligasi berseri
adalah obligasi yang terdiri atas beberapa seri dengan tanggal jatuh yang
berbeda-beda.
Contoh:
Sebuah perusahaan mengeluarkan obligasi yang nilai
nominalnya seluruhnya berjumlah 1.000.000.000. obligasi tersebut terdiri atas
10 seri, masing-masing bernilai nominal total 100.000.000. mulai tahun ke-6,
obligasi A sebesar 100.000.000 akan jatuh tempo. Disusul seri B pada tahun
ke-7, dan demikian seterusnya sampai dengan tahun ke-15.
2.
Obligasi Sinking Fund
Menurut Al. Haryono Jusup (2014:248) memiliki tanggal
jatuh yang sama. Dalam obligasi jenis ini perusahaan yang mengeluarkan obligasi
disyaratkan untuk menyisihkan sejumlah kekayan perusahaan (disebut sinking
fund) yang diinvestasikan sedemikian rupa sehinga pada saat jatuh obligasi,
perusahaan akan memiliki kas yang cukup untuk melunasi obligasi tersebut.
3.
Obligasi Atas Nama dan Obligasi Atas Unjuk
Menurut Al. Haryono Jusup (2014:248) kebanyakan obligasi
dibubuhi nama pemegang, artinya pada surat obligasi dicantumkan nama pemilik
obligasi tersebut, obligasi semacam ini disebut dengan obligasi atas nama. Cara
demikian dilakukan untuk mencegah kerugian pemegang jika obligasi dicuri atau
hilang.
Apabila obligasi tidak diberi nama, maka pembayaran bunga
dan pelunasan obligasi akan dibayar kepada orang yang menunjukkan surat
obligasi. Obligasi semacam itu disebut dengan obligasi atas unjuk.
4.
Obligasi Dengan Jaminan dan Obligasi Tanpa Jaminan
Menurut Al. Haryono Jusup (2014:249) obligasi dengan
jaminan adalah obligasi yang dijamin dengan harta kekayaan perusahaan tertentu.
Ini berarti jika diperlukan, kekayaan perusahaan yang dijadikan jaminan dapat
dijual untuk melunasi obligasi. Dengan adanya jaminan ini, pemegang obligasi
tidak perlu khawatir akan pelunasan obligasi pada tanggal jatuhnya.
Obligasi tanpa jaminan tidak secara eksplesit menyebutkan
jaminan kekayaan tersebut. Dalam obligasi semacam ini, jaminannya adalah
kemampuan keuangan perusahaan itu sendiri. Oleh karena itu obligasi tanpa
jaminan hanya akan laku dijual jika dikeluarkan oleh perusahaan yang mempunyai
kemampuan keuangan yang kuat.
E.
PROSES PENERBITAN DAN PERDAGANGAN OBLIGASI
Alternatif
pendanaan di pasar modal, selain menerbitkan saham bisa melalui penerbitan
obligasi. Obligasi atau surat utang adalah efek yang sangat umum
ditemukan dalam dunia keuangan. Proses penerbitan obligasi hampir sama dengan
penerbitan saham. Perusahaan yang akan menerbitkan obligasi menunjuk perusahaan
efek yang memiliki izin sebagai Penjamin Emisi Efek (PEE).
1.
Penerbitan Obligasi
Menurut Al. Haryono Jusup (2014:249) apabila perusahaan
mengeluarkan obligasi, maka obligasi tersebut biasanya dijual kepada suatu
perusahaan penjamin emisi yang disebut underwriter.
Selanjutnya penjamin emisi yang menjual obligasi kepada masyarakat. Dokumen
atau akte yang memuat hak dan kewajiban perusahaan serta pemegang obligasi
disebut perjanjian obligasi. Dengan demikian perjanjian obligasi merupakan
suatu kontrak tertulis antara perusahaan penerbit obligasi dengan para pemegang
obligasi. Setiap pemegang obligasi akan menerima sertifikat obligasi yang
merupakan bukti bahwa perusahaan mempunyai utang terhadap pemegang obligasi
tersebut
Apabila obligasi dijual kepada pembeli obligasi yang
banyak jumlahnya, maka mereka dapat mewakili oleh suatu trustee. Trustee bertugas
untuk memonitor tindakan-tindakan perusahaan penerbit obligasi, sehingga
mematuhi segala ketentuan yang tercantum dalam perjanjian obligasi. Trustee
biasanya berupa sebuah bank yang ditunjuk oleh perusahaan penerbit obligasi.
Menurut Wibowo (2005:96) pada saat penerbitan utang
obligasi diakui dan dicatat sebesar nilai pasar pada saat ditebitkan. Nilai
pasar pada saat diterbitkan dapat dihitung dangen dua cara, yaitu sebagai
berikut:
a.
Nilai pasar
dihitung dengan kurs pada saat penerbitan
b.
Nilai pasar utang
obligasi diperoleh dengan menghitung nilai sekarang dari nilai nominal obligasi
ditambah dengan nilai sekarang dari jumlah bunga yang dibayar semesteran.
Berkaitan dengan penerbitan utang obligasi, terdapat
tingkat bunga yang perlu dipertimbangkan yaitu bunga tingkat obligasi (coupon rate, nominal, stated rate) yaitu
merupakan tingkat bunga utang obligasi yang
biasanya tercetak pada lembar, dan tingkat bunga pasar-pasar (market rate, effective rate) yaitu
merupakan tingkat bunga yang diinginkan investor sebagai ukuran untuk
menentukan tingkat pengembalian investasi yang dilakukan.
2.
Perdagangan Obligasi
Menurut Al. Haryono Jusup (2014:250) pemegang obligasi
bisa mengubah obligasi yang dimilikinya menjadi uang (kas) dengan cara menjual
obligasi tersebut sebesar harga pasar yang berlaku pada saat penjualan dipasar
modal. Harga obligasi dinyatakan dalam kurs yang merupakan presentase dari
nilai nominal obligasi selembar obligasi bernilai nominal 100.000 dengan kurs
97 berarti bahwa harga jual obligasi tersebut adalah 97% dari nilai nominal,
atau 97.000 (97% x 100.000). surat-surat kabar mengumumkan harga obligasi dan
aktivitas perdagangan obligasi setiap hari.

Informasi tentang
obligasi diatas berarti bahwa Boeng Co (sebuah perusahaan di Amerika Serikat)
yang terdaftar dipasar modal sedang beredar. Tingkat bunga obligasi tersebut
5.125%, bernilai nominal $1.000 h tempo pada tahun 2014. Pada saat ini
menghasilkan return 5.747%. Nilai obligasi Boeing Co yang diperdagangkan hari
ini berjumlah $33.965.000. pada saat penutupan perdagangan, mempunyai harga
96.595% dari nilai nominal atau $965.95.
3.
Penentuan Nilai Pasar Obligasi
Menurut Al. Haryono Jusup (2014:251) Seandainya anda
seorang investor dan bermaksud untuk membeli obligasi, bagaimana cara
menentukan harga yang harus anda bayar untuk obligasi tersebut?.
Contoh:
PT ABC menerbitkan obligasi bernilai nominal
10.000.000.000, bunga 0%, jangka waktu 20 tahun. Untuk obligasi ini uang yang
akan anda terima kembali hanya sepuluh milyard rupiah pada akhir tahun ke-dua
puluh. Uang senilai sepuluh milyard rupiah 20 tahun yang akan datang tidak sama
nilainya dengan sepuluh milyard rupiah hari ini.
Jawabannya pasti tidak, karena berkaitan dengan nilai
waktu uang (time value of money). Apabila
mempunyai uang 20 milyard rupiah pada hari ini, anda dapat menginvestasikannya.
Dari investari itu anda akan mendapat bunga sehingga pada akhir tahun ke-20
anda akan menerima uang lebih banyak dari 20 milyard rupiah.
Jika seseorang akan membayar anda sebesar 10 milyard
rupiah 20 tahun yang akan datang. Anda harus menentukan nilai ekuivalensinya
pada hari ini. Anda harus menentukan berapa yang akan anda bayar pada hari ini
dengan tingkat bunga yang berlaku sekarang hingga memperoleh pengembalian
sebesar 20 milyard rupiah 20 tahun yang akan datang. Jumlah yang harus
diinvestasikan hari ini dengan tingkat bunga yang sedang berlaku untuk suatu
jangka waktu tertentu dimasa yang akan datang disebut nilai sekarang (present value).
Nilai sekarang dari suatu obligasi adalah nilai pada
harga tersebut obligasi dijual dipasar modal. Dengan demikian, harga pasar
merupakan fungsi dari tiga faktor untuk menentukan nilai sekarang, yaitu:
jumlah rupiah yang akan diterima, jangka waktu hingga uang sejumlah tersebut
diterima, tingkat bunga pasar. Tingkat bunga pasar adalah tingkat bunga yang
diterima investor untuk meminjamkan dana dimilikinya.
F.
AKUNTANSI UTUK PENERBITAN OBLIGASI
Menurut Al. Haryono Jusup (2014:252) penerbitan obligasi
diawali dengan pencetakan dan penandatanganan perjanjian obligasi oleh
perusahaan penerbit obligasi dan menyerahkannya pada trustee dari para pemegang
obligasi. Pada saat itu perusahaan membuat sebuah memo penerbitan obligasi yang
berbunyi: “disetujui untuk menerbitkan obligasi senilai Rp.8.000.000.000, bunga
9%, jangka waktu 20 tahun, tertanggal 1 Januari 2012, dengan pembayaran bunga
setiap tanggal 1 Juli dan 1 Januari.
Setelah perjanjian obligasi diserahkan pada trustee maka
obligasi seluruhnya atau sebagian sudah dapat dijual. Seandainya seluruh
obligasi terjual nilai nominalnya, maka perusahaan penerbit obligasi akan
membuat jurnal sebagai berikut:
|
Jan 1
|
Kas......................................
|
Rp.8.000.000.000
|
|
|
|
Utang
Obligasi............
|
|
Rp.8.000.000.000
|
|
|
(Mencatat penerbitan obligasi, 9%, 20 Tahun, sebesar
nilai patri)
|
|
|
Apabila pada tanggal 1 Juli 2012, perusahaan membayar
bunga obligasi untuk periode 6 bulan (1 Januari 2012 sampai 1 Juli 2012), maka
jurnal yang dibuat untuk mencatat transaksi pembayaran bunga obligasi adalah
sebagai berikut:
|
Jali 1
|
Beban Bunga........................
|
Rp.360.000.000
|
|
|
|
Kas...............................
|
|
Rp.360.000.000
|
|
|
(Mencatat pembayaran bunga 6 bulan)
|
|
|
Pada saat obligasi dilunasi (tanggal 1 Januari 2032),
perusahaan akan membuat jurnal sebagai berikut:
|
Jan 1
|
Utang Obligasi....................
|
Rp.8.000.000.000
|
|
|
|
Kas..............................
|
|
Rp.8.000.000.000
|
|
|
(Mencatat pelunasan obligasi pada tanggal jatuh)
|
|
|
1.
Obligasi Diterbitkan Diantara Dua Tanggal Bunga
Menurut Al. Haryono Jusup (2014:253) penjualan obligasi
dilakukan diantara dua tanggal bunga. Maka bunga berjalan (yaitu bunga untuk
periode setelah tanggal bunga terakhir sampai tanggal penjualan obligasi) harus
dibebankan pada pembeli obligasi. Namun pada tanggal bunga pembeli obligasi
akan menerima bunga untuk 6 bulan, sehingga beban bunga akan dikembalikan
kepada pembeli obligasi.
Contoh:
![]() |
|||||||
Keterangan:
A = Periode bunga berjalan (2 bulan)
B = Periode bunga yang menjadi hak pembeli obligasi (4
bulan)
C = Periode bunga yang akan dibayar perusahaan pada
tanggal 1/7 (6 bulan)
Pada bagan diatas
nampak bahwa apabila transaksi penjualan obligasi terjadi pada tanggal 1 Maret,
maka bunga yang menjadi hak pembeli obligasi adalah selama periode B (1 Maret-1
Juli), sedang bunga periode A (disebut bunga berjalan) selama 2 bulan bukan hak
pembeli obligasi, akan tetapi pada tanggal 1 Juli perusahaan penerbit obligasi
akan membayar bunga untuk 6 bulan atau sebesar 4.500 (100.000 x 9% x 6/12).
Oleh karena itu agar pembeli obligasi menerima bunga tidak melebihi haknya (4
bulan). Maka pada saat penjualan pembeli akan dibebani bunga selama 2 bulan
atau 1.500 (100.000 x 9% x 2/12) yang nantinya akan dikembalikan pada saat
pembeli menerima bunga dari perusahaan. Dengan demikian jurnal yang dibuat pada
saat transaksi penjualan obligasi adalah sebagai berikut:
|
Mar 1
|
Kas..................................
|
Rp.101.500
|
|
|
|
Utang
Bunga.............
|
|
Rp.1.500
|
|
|
Utang
Obligasi........
|
|
Rp.100.000
|
|
|
(Penjualan obligasi 100.000 x 9% x 2/12)
|
|
|
Jurnal yang dibuat
pada saat perusahaan membayar bunga obligasi adalah sebagai berikut:
|
Juli 1
|
Utang Bunga....................
|
Rp.1.500
|
|
|
|
Utang Obligasi................
|
Rp.3.000
|
|
|
|
Kas...........................
|
|
Rp.4.500
|
|
|
(Pembayaran bunga obligasi periode 6 bulan)
|
|
|
2.
Tingkat Bunga Obligasi
Menurut Al. Haryono Jusup (2014:256) tingkat bunga
obligasi dinyatakan secara pasti dan tercantum dalam perjanjian obligasi maupun
dalam sertifikat obligasi. Tingkat bunga ini disebut dengan tarif bunga
kontrak. Meskipun bunga biasanya dibayar secara tengah tahunan (6 bulan). Namun
persentase bunga dinyatakan dalam persentase untuk satu tahun. Untuk menghitung
beban bunga per tahun. Tarif bunga tersebut dikalikan dengan nilai nominal
obligasi.
Contoh:
Perusahaan mengeluarkan obligasi bernilai nominal 1.000,
bunga 8%, pembayaran bunga dilakukan setengah tahun, maka jumlah bunga yang
harus dibayar untuk satu tahun adalah 80 (1.000 x 8%) dan setiap tengah tahun
perusahaan akan membayar bunga sebesar 40 (80 : 2 atau 1.000 x 8% x 6/12).
Meskipun tarif bunga kontrak menetapkan tingkat bunga yang
harus dibayar perusahaan, namun hal ini tidak berarti bahwa tingkat bunga
itulah yang akan menjadi beban bung yang harus ditanggung perusahaan penerbit
obligasi. Jumlah bunga yang sesungguhnya menjadi beban perusahaan akan
tergantung pada bagaimana para pembeli obligasi (pemberi pinjaman)
memperkirakan resiko yang harus mereka tanggung dalam memberi pinjaman kepada
perusahaan penerbit obligasi, dan tingkat bunga pasar yang berlaku.
3.
Penerbit Obligasi Pada Nilai Nominal
Obligasi pada nilai nominal merupakan hak pelunasan,
beberapa obligasi memberi hak kepada penerbit untuk
melunasi obligasi tersebut sebelum tanggal jatuh tempo obligasi. Obligasi jenis
ini dikenal sebagai obligasi callable. Kebanyakan dari jenis obligasi
memberikan hak kepada penerbit untuk menebus obligasi pada nilai nominal.
Dalam beberapa obligasi mengharuskan penerbit untuk membayar premi yang
disebut premi opsi. Hal ini terutama digunakan untuk obligasi berbunga tinggi.
Pada jenis obligasi begitu banyak persyaratan yang ketat yang membatasi operasi
penerbit, dalam rangka untuk membebaskan penerbit dari pembatasan melakukan
pelunasan awal obligasi. tetapi dengan biaya yang lebih tinggi.
4.
Diskonto atau premi pada obligasi
pabila tingkat
bunga di pasaran lebih rendah dari tingkat bunga obligasi, maka pembeli (investor) akan
bersedia membayar dengan harga harga lebih tinggi darui nilai nominal obligasi.
Dengan perkataan lain investor bersedia membayar dengan premi. Premi akan
mengurangi beban bunga. Sebaliknya diskonto akan menambah beban bunga.
Obligasi
kadang-kadang dikeluarkan tidak bertepatan dengan tanggal bunga tetapi pada
suatu tanggal tertentu diantara dua tanggal bunga. Mengingat bahwa bunga
obligasi selalu dibayar untuk periode waktu tetap, maka pembeli obligasi
dikenakan bunga berjalan yaitu bunga antara tanggal pembayaran bunga yang
terakhir sampai dengan tanggal pengeluaran (penjualan) obligasi.
Keuntungan
ataupun kerugian sebagai akibat adanya premi atau diskonto dari penjualan
obligasi bukanlah merupakan laba atau rugi pada periode di mana penjualan itu
terjadi, melinkan merupakan keuntungan atau kerugian sepanjang umur dari Hutang
obligasi yang bersangkutan. Oleh karena itu setiap akhir periode (tahun) perlu
disusun jurnal pembebanan keuntungan atau kerugian
tersebut ke akun “Beban bunga”, melalui jurnal penyesuaian.
5.
Penerbitan Obligasi Pada Diskonto
Menurut Al. Haryono Jusup (2014:257) diskonto atas utang
obligasi terjadi apabila perusahaan menerbitkan dan menjual obligasi yang
tingkat bunga kontraknya lebih rendah daripada tingkat bunga pasar
Contoh:
Pada tanggal 1 Januari 2010 perusahaan mengeluarkan
obligasi bernilai nominal 100.000.000.000, bunga 8%, dengan jangka waktu 10
tahun.
Pada saat obligasi akan diterbitkan , tingkat bunga pasar
yang berlaku 9% dalam situasi demikian investor tidak akan membeli obligasi
tersebut karena tingkat bunganya lebih rendah daripada tingkat bunga pasar.
Agar investor bersedia membeli maka harga obligasi harus diturunkan. Selisihnya
antara nilai nominal dengan harga jual yang lebih rendah dari nilai nominal
disebut diskonto. Yaitu dijual dengan harga 93.492.000.000, maka diskontonya
adalah 6.508.000.000, jurnal untuk mencatat transaksi penjualan obligasi dengan
diskonto adalah sebagai berikut:
|
Jan 1
|
Kas..................................
|
Rp.93.492.000.000
|
|
|
|
Diskonto
Obligasi..........
|
Rp.6.508.000.000
|
|
|
|
Utang
Obligasi........
|
|
Rp.100.000.000.000
|
|
|
(Penjualan obligasi bunga 8%, jangka waktu 10 tahun)
|
|
|
Seandainya perusahaan menyusun neraca pada tanggal
penjualan obligasi diatas, maka obligasi tersebut akan dicantumkan dalam
kelompok utang jangka panjang dengan cara sebagai berikut:

Diskonto obligasi yang dilaporkan dalam neraca, adalah
jumlah diskonto yang belum diamortisasi. Saldo diskonto obligasi dikurangi
terhadap nilai nominal obligasi, sehingga dapat ditentukan nilai buku obligasi.
Menurut Elvy Maria Manurung (2011:84) obligasi yang
diterbitkan dengan diskonto ada juga kemungkinan obligasi dijual lebih rendah
dari nilai nominalnya, jika para investor menganggap bahwa bunga yang
ditawarkan obligasi tersebut tidak/kurang menarik.
6.
Penerbitan Obligasi Pada Premi
Menurut Al. Haryono Jusup (2014:264) apabila perusahaan
menawarkan penjualan obligasi dengan tingkat bunga kontrak yang lebih tinggi
dari tingkat bunga pasar pada tingkat risiko tertentu, maka obligasi tersebut
akan dijual dengan premi. Oleh karena itu obligasi dapat dijual dengan harga
yang lebih tinggi dari nilai nominalnya. Selisih lebih dari harga jual obligasi
dengan nilai nominal obligasi disebut premi obligasi.
Contoh:
Pada tanggal 1 Mei perusahaan menjual obligasi yang seluruhnya
bernilai nominal 100.000.000.000, bunga 11%, jangka waktu 10 tahun, dengan
tanggal bunga 1 Mei dan 1 November. Pada saat obligasi ditrbitkan tingkat bunga
pasar adalah 10%, sehingga obligasi ditawarkan dengan harga 106.232.000.000.
dengan demikian transaksi penjualan obligasi ini timbul premi sebesar
6.232.000.000 (106.232.000.000 – 100.000.000.000). jurnal untuk mencatat
transaksi penjualan obligasi dengan premi adalah sebagai berikut:
|
Mei 1
|
Kas............................
|
Rp.106.232.000.000
|
|
|
|
Utang
Obligasi....
|
|
Rp.100.000.000.000
|
|
|
Premi
Obligasi....
|
|
Rp.6.232.000.000
|
|
|
(Penjualan obligasi dengan premi, pada tanggal
penerbitan obligasi)
|
|
|
Seandainya perusahaan menyusun neraca pada tanggal
penjualan obligasi, maka utang obligasi dan premi obligasi akan dicantumkan
dalam neraca dengan cara sebagai berikut:

Premi obligasi yang belum diamortisasi dalam neraca
ditambahkan terhadap nilai nominal obligasi, sehingga dapat ditentukan nilai
buku obligasi pada tanggal neraca.
Menurut Wibowo (2005:99) Jika utang obligasi diterbitkan
pada tingkat bunga pasar yang lebih tinggi dari tingkat bunga utang obligasi,
maka utang obligasi yang diterbitkan akan memperoleh diskon, artinya nilai
pasar utang obligasi tersebut lebih rendah dari nilai nominal. Jika obligasi
yang diterbitkan pada tingkat bunga pasar yang lebih rendah dari bunga utang
obligasi maka utang obligasi yang diterbitkan akan memperoleh pemium, artinya
nilai pasarnya lebih tinggi dari nilai nominal. Sedangkan jika utang obligasi
yang diterbitkan pada tingkat bunga pasar yang sama pada tingkat bunga
obligasi, maka utang obligasi tersebut tidak memperoleh diskon atau premium,
artinya nilai pasar utang obligasi sama
dengan nilai nominal.
Menurut Elvy Maria Manurung (2011:85) obligasi yang
diterbitkan dengan premi yaitu jika para investor menganggap bahwa bunga yang
ditawarkan obligasi menarik, maka obligasi yang dijual dengan harga diatas
nominalnya
DAFTAR ISI
1.
Slamet
Sugiri, 2002, Akuntansi Pengantar 2, Edisi Revisi, UPP AMP YKPN,
Yogyakarta.
2.
Al
Haryono Jusup, 2011, Dasar-Dasar Akuntansi, Jilid 2 Edisi 7, STIE YKPN,
Yogyakarta.
3.
Al
Haryono Jusup, 1995, Dasar-Dasar Akuntansi, Jilid 2 Edisi 5, STIE YKPN,
Yogyakarta.
4.
Al
Haryono Jusup, 2001, Dasar-Dasar Akuntansi, Jilid 2 Edisi 6, STIE YKPN, Yogyakarta.
5.
Al
Haryono Jusup, 2001, Dasar-Dasar Akuntansi Soal-soal dan Pembahasan, Jilid 2
Edisi 4, STIE YKPN Yogyakarta.
6.
Elvy Maria Manurung, 2011, Akuntansi Dasar, Erlangga, Jakarta.
7.
Rudianto, 2012, Pengantar Akuntansi, Erlangga, Jakarta.
8.
Wibowo, S.E., M.M, 2005, Pengantar Akuntansi II, Grasindo, Jakarta.

No comments:
Post a Comment